sunnah ketika thawaf
DASAR ISLAM, KEIMANAN

9 Sunnah Ketika Thawaf Yang Harus Kamu Ketahui

Alomuslim.com – 9 Sunnah Ketika Thawaf Yang Harus Kamu KetahuiBeberapa hal berikut merupakan sunnah-sunnah yang bisa diamalkan bagi seseorang yang sedang melakukan thawaf. Amalan-amalan sunnah ini tidak akan mempengaruhi keabsahan ibadah haji apabila ditinggalkan, tetapi akan lebih menambah pahala dan menjaga kesempurnaan ibadahnya.

Diantara sunnah-sunnah ketika thawaf, yaitu :

1. Berwudhu Sebelum Thawaf

Berdasarkan hadits dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa pertama kali yang dilakukan Rasulullah  saat tiba di Makkah, beliau berwudhu kemudian melakukan thawaf di Ka’bah. (HR. Bukhari 1615, Muslim no. 1235)

Perbuatan beliau ini hanya menunjukkan anjuran yang tidak mencapai taraf wajib. Walau bagaimanapun, thawaf telah disebutkan sebagai ibadah yang berdiri sendiri, karenanya dianjurkan untuk bersuci berdasarkan hadits dari seorang yang menyampaikan salam kepada Nabi . Namun beliau tidak membalasnya sehingga membasuh wajah dan tangannya (berwudhu), kemudian beliau membalas salam tersebut. (Hasan. HR. Abu Dawud no. 1875)

2. Melakukan Idhthiba’ (khusus bagi laki-laki)

sunnah ketika thawaf melakukan idthiba

Idhhthiba’ adalah menjadikan salah satu pertengahan kain ihram di bawah ketiak kanannya dan mengalungkan ujung kain tersebut diantara pundak sebelah kiri. Dengan demikian pundak sebelah kanan dibiarkan dalam keadaan terbuka, berdasarkan hadits Ya’la bin Umayyah, bahwa Nabi  melakukan thawaf dalam keadaan idhthiba’.

Idhthiba’ merupakan perkara sunnah dalam semua putaran thawaf, menurut pendapat mayoritas ulama, tetapi hanya dikhususkan bagi kaum laki-laki saja, karena bagi wanita, ia wajib menutup semua bagian tubuh yang termasuk aurat. Memakai kain ihram dengan cara idhthiba’ hanya dilakukan pada saat thawaf dan tidak dilakukan pada ritual lainnya.

Tetapi sebagian besar umat muslim telah melakukan kekeliruan dengan memakai kain ihram dengan cara idhthiba’ dari mulai berihram sampai bertahallul. Bahkan mereka melakukan shalat dalam keadaan pundaknya terbuka.

3. Berlari-lari Kecil Pada Tiga Putaran Pertama (Khusus bagi laki-laki)

Berlari-lari kecil dilakukan dengan mempercepat ayunan kaki dalam melangkah yang saling berdekatan sambil menggoyangkan pundak, tanpa melakukan lompatan. Hal ini dilakukan pada tiga putaran pertama, sedangkan empat putaran terakhir cukup dengan berjalan biasa.

Dalam hadits Ibnu Umar radhiallahu anhu disebutkan, ‘Nabi shallallahu alaihi wa sallam berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama dan berjalan biasa pada empat putaran dalam haji dan umrah (dimulai dari hajar Aswad sampai hajar Aswad lagi).’ (HR. Bukhari no. 1604, Muslim no. 1261)

4. Menyentuh Hajar Aswad dan Menciumnya, Jika Memungkinkan

Menyentuh hajar Aswad adalah dengan mengusapnya menggunakan tangan. Hal ini merupakan sunnah berdasarkan hadits Ibnu Umar, dia berkata, ‘Aku melihat Rasulullah ketika baru tiba di Mekkah, beliau menyentuh hajar Aswad pada permulaan thawaf dan berjalan cepat (berlari kecil) pada tiga putaran (pertama) dari tujuh putaran.’ (HR. Bukhari no. 1603, Muslim no. 1261)

sunnah ketika thawaf hajar aswad

Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu pernah mencium hajar Aswad dan kemudian berkata, ‘Kalau tidak karena aku menyaksikan Rasulullah menciummu, maka aku tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari no. 1065, Muslim no. 1270)

5. Sujud Menghadap Hajar Aswad

Dari riwayat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku melihat Umar bin Khaththab mencium hajar Aswad dan bersujud menghadapnya, kemudian kembali menciumnya dan bersujud menghadapnya, dan berkata, ‘Demikianlah aku menyaksikan Rasulullah melakukannya’.” (Shahih, Al Irwa’ 4/312)

6. Menyentuh Rukun (Sudut) Yamani dan Berdoa

sunnah ketika thawaf menyentuh rukun sudut

Menyentuh dan berdoa di antara dua rukun, yakni Rukun Yamani dan hajar Aswad, merupakan sunnah yang cukup ditekankan untuk dikerjakan, berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu, dia berkata ;

‘Aku tidak melihat Rasulullah mencium bagian Ka’bah kecuali dua rukun (sudut) yamani (Rukun Yamani dan Hajar Aswad).’ (HR. Bukhari no. 1609, Muslim no. 1267)

Sementara doa yang dibaca oleh Rasulullah ketika berada diantara dua rukun tersebut diantaranya, Rabbana aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah waqinaa ‘adzaaban-naar. (Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan berikanlah kami kebaikan di akhirat, serta jauhkanlah kami dari siksa Neraka).’ (Hasan. HR. Abu Dawud no. 1892, An Nasa’i no. 3934, Ahmad 3/411)

Seseorang yang ingin berdoa dapat memanjatkan doa apapun yang mereka inginkan selama tidak menyalahi syariat. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak menentukan satu bacaan khusus. Dan bagi kaum wanita, hendaknya ketika ingin menyentuh rukun Yamani, tidak berdesak-desakan dengan kaum lelaki.

7. Melakukan Shalat Dua Raka’at di Belakang Maqam Ibrahim

Selesai melakukan thawaf, dianjurkan untuk menuju maqam Ibrahim dan membaca ayat, ‘wattakhidzuu min maqaami ibraahiima mushalla’. (Dan jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim tempat shalat). (QS. Al Baqarah : 125)

Kemudian melakukan shalat sunnah dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim. Diantara dua rakaat terebut dianjurkan membaca surat Al Kaafiruun dan Al Ikhlash. Dua rakaat shalat sunnah tersebut boleh dilakukan kapan saja tanpa ada kemakruhan, sekalipun dilakukan pada waktu terlarang. Hal itu berdasarkan hadits Jubair bin Math’im, bahwasanya Nabi  pernah bersabda

“wahai bani Abdu Manaf, janganlah kalian melarang seseorangpun untuk melakukan shalat di Ka’bah ini, ia boleh melakukan shalat kapan saja pada malam hari atau siang hari.” (Shahih. HR. at-Tirmidzi no. 869, An Nasa’i 5/223, dan Ibnu Majah no. 1254)

8.Minum Air Zam-zam dan Menyiramkannya ke Kepala

sunnah ketika thawaf minum air zam zam

Setelah menyelesaikan thawaf dan shalat sunnah dua rakaat, kemudian meminum air zam-zam dan menyiramkannya ke kepala. Dalam hadits Jabir disebutkan bahwa Nabi  berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama dimulai dan diakhiri di Hajar Aswad, kemudian shalat dua rakaat dan kembali menuju Hajar Aswad, lalu beliau menuju sumur zam-zam minum darinya, dan beliau juga menyiramkannya (zam-zam) ke kepala beliau, kemudian kembali dan mencium atau menyentuh Hajar Aswad. (Shahih. HR. Ahmad 3/394)

9. Berdoa di Multazam (Pintu Ka’bah)

sunnah ketika thawaf multazam

Mayoritas ulama mengatakan bahwa disunnahkan untuk berdiri di Multazam(pintu Ka’bah) setelah melakukan thawaf dan berdoa, karena Multazam merupakan salah satu tempat dikabulkannya doa.

Wallahu ‘alam.

Referensi : Shahih Fikih Sunnah Jilid 2, Abu Malik Kamal bin As Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *