Sunnah-Sunnah Ketika Menuju Mina
DASAR ISLAM, HAJI

Sunnah-Sunnah Ketika Menuju Mina

Alomuslim.com – Berikut ini beberapa sunnah ketika seseorang yang sedang berhaji hendak menuju Mina :

  • Hendaknya orang yang melaksanakan haji mulai berihram (bagi yang melakukan haji Ifrad dari pendudukan Mekah, atau yang melakukan haji Tamattu’ yang sebelumnya telah keluar dari kondisi ihram) pada hari Tarwiyah, yaitu hari kedelapan di bulan Dzulhijjah.
  • Semuanya -baik yang melakukan haji Qiran atau Ifrad dari mereka yang berasal dari berbagai penjuru dunia- hendaknya menuju Mina pada hari Tarwiyah sebelum waktu dzuhur.
  • Hendaknya melaksanakan shalat Dzuhur dan Ashr, Maghrib dan Isya’ pada hari Tarwiyah dengan cara menjamak
  • Hendaknya bermalam di Mina hingga terbit fajar dan melakukan shalat Shubuh, hingga terbut matahari pada hari Arafah.
  • Hendaknya menggunakan kendaraan ketika berpindah dari satu tempat menuju tempat lainnya (Mina, Arafah, Muzdalifah) dan itu lebih baik daripada harus berjalan kaki.
  • Hendaknya membuat perkemahan di sekitar Namirah, apabila ingin mengikuti Nabi shallallahu alaihi was sallam. Dalil-dalil yang menyangkut sunah-sunah tersebut tertera dalam hadits Jabir radhiallahu anhu, “..maka tatkala tiba hari Tarwiyah, mereka bergerak menuju Mina dan berniat haji. Nabi shallallahu alaihi was sallam menuju Mina dengan berkendara dan melaksanakan shalat Dzuhur dan Ashr, Maghrib, Isya’dan Shubuh. Kemudian berdiam sejenak hingga terbit matahari dan beliau memerintahkan untuk membuat perkemahan untuk beliau di Namirah, kemudian beliau mulai bergerak hingga tiba di Arafah..” (HR. Muslim no. 1218)
  • Hendaknya bertalbiyah atau bertakbir dalam perjalanan dari Mina menuju Arafah, sesuai hadits Muhammad bin Abu Bakar Ats-Tsaqafi, bahwasanya dia bertanya kepada Anas bin Malik radhiallahu anhumma, -pada saat keduanya dalam perjalanan dari Mina menuju Arafah-.  “Bagaimana anda melakukan hal ini ketika Bersama Rasulullah shallallahu alaihi was sallam?’ maka Anas menjawab, ‘Diantara kami ada yang bertalbiyah, dan beliau tidak melarangnya, juga ada yang bertakbir dan beliau tidak melarangnya’.” (HR. Bukhari no. 1659, Muslim no. 1284)
  • Hendaknya seorang Imam menyampaikan khutbah, menjelaskan tentang manasik haji kepada para jamaah haji dan menganjurkan mereka agar memperbanyak doa dan mengucapkan laa ilaaha illallaah, menjelaskan berbagai perkara demi kebaikan agama, sebagaimana tercantum dalam hadits Jabir radhiallahu anhu.
  • Khutbah ini hukumnya sunnah sesuai kesepakatan ulama. Khutbah yang disunnak hanyalah satu kali dan bukan dua khutbah yang diselingi dengan duduk diantara keduanya. Inilah pendapat yang umum.
  • Hendaknya menjamak dan mengqashar shalat Dzuhur dan Ashr berjamaah dengan imam (pada hari Arafah), dan tidak melakukan shalat apapun antara keduanya. Bagi yang tidak sempat melaksanakan shalat secara berjamaah, ia boleh mengerjakannya sendiri, sesuai dengan pendapat para ulama.

Wallahu a’lam bishawab. 

Referensi : Shahih Fikih Sunnah Jilid 2, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *