Sunnah-Sunnah Ketika Wukuf Di Arafah Dan Ketika Meninggalkannya
DASAR ISLAM, HAJI

Sunnah-Sunnah Ketika Wukuf Di Arafah Dan Ketika Meninggalkannya

Alomuslim.com – Berikut adalah beberapa Sunnah-Sunnah Ketika Wukuf Di Arafah Dan Ketika Meninggalkannya :

1. Wuquf (Berdiam diri) di bagian bebatuan.

Bagi jamaah haji, boleh melakukan wuquf di bagian mana saja di Kawasan Arafah, hanya saja disunnahkan agar berdiam diri di hamparan bebatuan dibagian bawah jabal Rahmah, yaitu sebuah bukit yang terdapat di Kawasan Arafah.

Hal ini berdasarkan hadits dari Jabir radhiyallahu anhu, “..sehingga ketika beliau sampai di Arafah, beliau lalu meletakkan perut untanya di bebatuan, dan menjadikan jalan umum tempat orang-orang berlalu Lalang di hadapannya..”

Imam An Nawawi berkata, ‘Inilah tempat yang disunnahkan. Adapun keyakinan sebagian orang yang tiak mengerti dengan mengharuskan menaiki jabal Rahmah tersebut dan mengatakan bahwa yang tidak menaikinya maka hajinya tidak sah, adalah keyakinan yang sangat keliru.’

2. Menghadap kiblat dan mengangkat tangan seraya berdoa

Sesuai dengan hadits Jabir radhiyallahu anhu, “dan beliau menghadap kiblat…” dan Nabi shallallahu alaihi was sallam, bersabda :

“Sebaik-baik doa adalah pada hari Arafah, dan sebaik-baik apa yang aku ucapkan dan para Nabi sebelumku adalah, ‘Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku walahul handu,wahua alaa kulli syai’in qadiir’ (Tiada sesembahan kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, semua kerajaan dan pujian hanyalah milik-Nya, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu)’.” (hasan. HR. At-Tirmidzi no. 3585, Ibnu Abi Syaibah 1/369)

Terdapat beberapa macam doa yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada waktu wukuf, namun menurut para ulama, riwayat lain memiliki kelemahan dalam sisi sanad sehingga tidak boleh diamalkan.

3. Mengucapkan Talbiyah

Hal ini berdasarkan keterangan hadits dari Sa’id bin Jubair, dia berkata, “Ketika kami berada bersama Ibnu Abbas, dia berkata kepadaku, ‘Wahai Sa’id, mengapa aku tidak mendengar suara talbiyah dari orang-orang?’ Aku menjawab, ‘Mereka takut kepada Mu’awiyah.’ Sa’id berkata, ‘Maka Ibnu Abbas keluar dari kemahnya dan berseru, ‘Labbaik allaahumma labbaik..’ sungguh mereka telah meninggalkan Sunnah hanya karena kebencian kepada Ali radhiyallahu anhu.” (shahih. HR. Al-Hakim 1/464-465, Al Baihaqi 5/103)

4. Hendaknya tidak berpuasa

Pada saat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sedang berada di tempat wukufnya di Arafah, orang-orang meragukan apakah beliau berpuasa atau tidak. Maka, salah seorang istri beliau, Maimunah radhiyallahu ‘anha memberi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam segelas susu, dan beliau meminumnya, sementara orang-orang menyaksikannya. HR. Bukhari no. 1989, Muslim no. 1124)

5. Bertolak dengan tengan dari Arafah setelah terbenamnya matahari

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tatkala beranjak dari Arafah setelah terbenamnya matahari, kemudian bersabda :

“Wahai manusia, hendaknya kalian dalam keadaan tenang, karena kebaikan (ketaatan) bukan dengan ketergesa-gesaan.” (HR. Bukhari no. 1671, Muslim no. 1218, An-Nasa’i 5/257)

Tetapi boleh juga apabila mendapati keluasan jalan, hendanya sedikit bergegas, hal ini juga pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, yang disebutkan dalam sebuah riwayat lainnya, ‘Beliau berjalan dengan tenang, dan ketika mendapatkan keluasan jalan, maka beliau sedikit mempercepat jalannya.” (HR. Bukhari no. 1666, Muslim no. 1286)

6. Berjalan menuju Muzdalifah dengan senantiasa bertalbiyah

Nabi shallallahu alaihi wa sallam terus bertalbiyah hingga melempar jumrah Aqabah. (HR. Bukhari no. 1544, Muslim)

Imam An Nawawi dalam hal menanggapi hadits ini, ia berkata, ‘Hadits ini merupakan dalil bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam terus bertalbiyah hingga waktu melempar jumrah pada siang hari Nahr.’

Referensi : Shahih Fikih Sunnah Jilid 1, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *