8 Syarat Pakaian Wanita Muslimah

syarat pakaian wanita muslimah

8 Syarat Pakaian Wanita Muslimah – Islam sangat memperhatikan adab-adab berpakaian, terutama yang berkaitan dengan kaum wanita. Karena pada dasarnya kaum wanita adalah aurat, sehingga perlu hukum yang cukup detail untuk menjelaskan syarat-syarat berpakaian yang diperbolehkan.

Dari kitab Shahih Fikih Sunnah yang ditulis oleh Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim yang juga dikomentari oleh beberapa ulama besar, berikut delapan syarat pakaian untuk wanita muslimah :

Baca Juga : Sunnah Sunnah Dalam Berpakaian

1. Pakaian wanita muslimah harus menutupi semua anggota tubuhnya.

syarat pakaian wanita muslimah menutupi semua anggota tubuhnya

Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala, yang artinya :

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya merekalebih mudah di kenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzaab : 59)

2. Pakaian yang dikenakannya tidak termasuk pakaian yang tergolong perhiasan.

Allah ﷻ berfirman :

[su_quote]“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.” (QS. An Nur : 31)[/su_quote]

Keumuman ayat ini mencakup pakaian yang tampak jika pakaian tersebut dihiasi dengan aneka macam hiasan yang mengundang lirikan kaum laki-laki.

3. Pakaian tersebut harus tebal dan tidak menampilkan lekuk tubuh.

Nabi ﷺ pernah bersabda :

“Ada dua golongan dari penghuni neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu kaum laki-laki yang membawa cambuk seperti ekor sapi, mereka mencambuk orang-orang dengannya; dan kaum wanita yang berpakaian namun (terlihat) telanjang, menggoyang-goyangkan pundak mereka lagi berjalan berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium aromanya, padahal sesungguhnya aroma surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

Yang dimaksud dengan wanita-wanita dalam hadits diatas adalah wanita-wanita yang mengenakan pakaian yang tipis, alias transparan sehingga nampak lekukan tubuhnya. Dengan demikian, pada dzahirnya mereka berpakaian namun pada hakikatnya mereka telanjang.

4. Hendaknya pakaian yang dikenakan bersifat longgar, tidak ketat, sehingga tidak menonjolkan lekuk tubuh.

syarat pakaian wanita muslimah bersifat longgar

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid, dia berkata : Rasulullah pernah memberiku sebuah mantel qibthiyah (pakaian buatan Mesir) yang longgar. Mantel tersebut adalah hadiah dari Dihyah Al Kalbi. Lalu mantel itu aku berikan kepada isteriku. Rasulullah ﷺ bertanya kepadaku, “Mengapa kamu tidak mengenakan mantel qibthiyah itu?” aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah, mantel itu telah aku berikan kepada isteriku.’ Lalu Rasulullah ﷺ mengatakan kepadaku, “Suruhlah isterimu mengenakan pakaian dalam, karena aku khawatir mantel itu menampakkan lekuk tubuhnya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud)

5. Hendaknya pakaian tersebut tidak dilumuri wewangian.

Diriwayatkan dari Abu Musa Al Asy’ari, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda :

“Setiap wanita yang mengenakan wewangian (parfum) lalu dia berjalan melewati suatu kaum supaya mereka mencium aroma wanginya, berarti dia adalah pezina.” (HR. An Nasa’i, Abu Dawud dan Tirmidzi)

6. Hendaknya pakaian tersebut tidak menyerupai pakaian laki-laki.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Rasulullah melaknat lelaki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai lelaki.” (HR. Bukhari, Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Maksud hadits di atas adalah laki-laki tidak boleh menyerupai wanita dalam hal pakaian dan perhiasan yang khusus bagi wanita, dan begitu pula sebaliknya.

7. Pakaian tersebut tidak mnyerupai pakaian wanita kafir.

Syariat islam telah menetapkan bahwa kaum muslimin, baik laki-laki maupun wanita, tidak boleh menyerupai orang-orang kafir, baik dalam hal peribadatan, peryaan dan pakaian mereaka. Diantara dalil larangan menyerupai pakaian mereka adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, dia berkata, “Rasulullah pernah melihatku mengenakan dua pakaian yang berwarna kekuning-kuningan (mu’ashfar), lalu beliau berkata, ‘Ini adalah pakaian orang-orang kafir, maka janganlah kamu mengenakannya’.” (HR. Muslim, An Nasa’i, Ahmad)

8. Pakian tersebut hendaknya bukan pakaian kebesaran.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda :

“Barangsiapa mengenakan pakaian kebesaran di dunia, maka Allah akan mengenakan pakaian kehinaan (padanya) pada hari kiamat kelak, kemudian dinyalakan api neraka darinya.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Pakaian kebesaran adalah semua pakaian yang dimaksudkan untuk membanggakan diri di hadapan orang lain, baik pakaian yang harganya mahal dipamerkan ataupun pakaian yang harganya murah yang dikenakan dengan maksud untuk menampakan keshalehan dan pamer.

Referensi : shahih fikih sunnah jilid 3, Abu Malik Kamal bn As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *