syarat-syarat melakukan thawaf
DASAR ISLAM, HAJI

Syarat-Syarat Melakukan Thawaf

Alomuslim.com – Syarat-Syarat Melakukan Thawaf  Terdapat beberapa syarat-syarat yang harus diperhatikan bagi umat muslim yang hendak maupun sedang melaksanakan ibadah haji. Apabila seseorang melanggar syarat tersebut, maka ibadahnya dianggap tidak sah. Sangat disayangkan apabila hal itu harus terjadi hanya karena ketidaktahuan.

Berikut beberapa syarat Thawaf yang harus diperhatikan :

1. Thawaf dalam Keadaan Suci dari Hadats

Jumhur (maoyritas) ulama, selain ulama dari Madzhab Hanafi dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad serta Ibnu Hazm, bersepakat bahwa suci dari hadats dan najis merupakan syarat sahnya thawaf, apabila seseorang melakukan thawaf dan tidak melaksanakan salah satu dari keduanya (yakni suci dari hadats dan najis) maka thawafnya dianggap tidak sah.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah  kepada ‘Aisyah yang pada saat itu sedang haid, ‘Lakukanlah semua yang dikerjakan oleh orang yang tengah menunaikan ibadah haji, hanya saja kamu tidak boleh melakukan thawaf di Ka’bah sehingga kamu bersuci.’ (HR. Bukhari no. 305, Muslim no. 1211)

2. Menutup Aurat

Tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk thawaf di Ka’bah dalam keadaan telanjang atau terbuka aurat. Apabila ia melakukannya maka thawafnya tidak sah menurut pendapat mayoritas ulama. Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah, bahwa Abu Bakar radhiallahu anhumma, mengutusnya dalam haji yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebelum melaksanakan haji wada’, beliau bersabda di hari Kurban kepaa sekelompok manusia :

“Ketahuilah, setelah tahun ini tidak diperbolehkan untuk melaksanakan haji bagi orang yang musyrik, dan tidak boleh thawaf dengan telanjang.” (HR. At Tirmidzi)

3. Melakukan Thawaf di Dalam Baitullah

Syarat ini berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

“Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (QS. Al Hajj : 29)

Apabila seseorang melakukan thawaf di dalam Hijr (lokasi yang dikelilingi oleh pagar yang berbentuk melengkung di samping bangunan Ka’bah pada arah utara), maka thawafnya tidak sah sesuai sabda Rasulullah , ‘Hijr adalah bagian dari Ka’bah.’ (Shahih. HR. At Tirmidzi no. 876, Abu Dawud no. 2028, Ibnu Majah no. 2955)

4. Memulai dan Mengakhiri Thawaf di Hajar Aswad dan Ka’bah Berada di Sisi Kiri

syarat-syarat melakukan thawaf mencium hajar aswad

Ketika Rasulullah  sampai di Mekkah, beliau langsung menuju Hajar Aswad dan menciumnya, kemudian beliau berjalan dari sisi kanannya, berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama dan berjalan biasa pada empat putaran berikutnya.

Hal itu merupakan syarat dalam thawaf menurut para ulama, karena Rasulullah  senantiasa melakukannya seperti itu, dan perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam merupakan penjelasan bagi perkara-perkara yang disebutkan dalam Al Qur’an secara global.

5. Dilakukan Sebanyak Tujuh Kali Putaran

Perbuatan Rasulullah  yang mengelilingi thawaf sebanyak tujuh kali menjadi dalil yang menguatkan thawaf dilakukan sebanyak tujuh kali putaran mengelilingi Ka’bah. Apabila ada seseorang yang mengelilingi kurang dari tujuh kali putaran, bahkan hanya beberapa langkah saja, maka putaran thawaf yang dilakukannya dianggap tidak sah. Dan inilah pendapat yang dipegang oleh para ulama.

6. Putaran Dilakukan Secara Muwalat (Berkesinambungan)

Putaran harus dilakukan tujuh kali secara langsung, tidak boleh ada suatu hal pemisah yang cukup panjang antara setiap putaran thawaf. Apabila seseorang menunda putaran thawafnya dengan melakukan kegiatan yang tidak berkaitan dengan ibadah atau hanya untuk hal yang sia-sia maka thawafnya dianggap batal.

Akan tetapi apabila ia menunda thawafnya karena udzur, seperti buang air, berwudhu, melaksanakan shalat fardhu atau yang lainnya, maka ia diperbolehkan untuk melanjutkan putaran thawaf yang sebelumnya.

Demikian beberapa syarat thawaf yang harus diperhatikan oleh orang-orang yang sedang mengerjakan ibadah haji. agar tidak terjebak pada kebingungan ketika melaksankannya.

Wallahu ‘Alam.

Referensi :

  • Shahih Fikih Sunnah Jilid 2, Abu Malik Kamal bin As Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)
  • Minhajul Muslim, Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jaza’iri (Darul Haq : 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *