Tahun Kesedihan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam

Tahun Kesedihan Rasulullah

Alomuslim.com – Setelah masa pemboikotan yang dilakukan oleh kaum Quraisy kepada Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib berakhir pada bulan Muharram tahun 10 kenabian, kemudian Abu Thalib yang telah berumur 80 tahun, mengalami sakit karena kesusahan yang dialaminya selama 3 tahun masa pemboikotan itu. Abu Thalib yang senantiasa melindungi sang keponakan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam mendakwahkan Islam kepada kaumnya, mulai melemah dan kesulitan melindungi keponakannya karena mengalami sakit yang cukup serius hingga akhir hidupnya.

Hingga akhirnya enam bulan kemudian, tepatnya pada bulan Rajab tahun 10 kenabian, setelah kondisi sakitnya semakin parah, maka Abu Thalib-pun wafat. Tetapi ada riwayat lain yang menyebutkan, bahwa Abu Thalib wafat di bulan Ramdhan tahun yang sama.

Hal ini jelas membuat Rasulullah bersedih, karena kehilangan paman yang sangat disayanginya yang selalu melindungi beliau dari gangguan kaumnya. Yang menambah kesedihan Rasulullah adalah ketika diakhir hidup Abu Thalib, beliau tidak mampu mengajak pamannya untuk beriman kepada Allah. Sang paman, memilih untuk tetap dalam agama ayahnya, Abdul Muththalib.

Setelah dua bulan kematian pamannya, Rasulullah harus kembali mengalami kesedihan karena kehilangan orang yang sangat disayanginya. Ummul mukminin, Khadijah radhiyallahu ‘anha wafat, tepatnya pada bulan Ramadhan tahun 10 kenabian. Ibunda Khadijah wafat dalam usia 65 tahun sedangkan Rasulullah ketika itu berusia 50 tahun.

Sosok Khadijah merupakan nikmat Allah yang paling besar bagi Rasulullah. Selama 25 tahun hidup berumah tangga, ibunda Khadijah senantiasa menghibur beliau di saat cemas, memberikan dorongan disaat kritis, mendampingi beliau dalam berbagai rintangan dan selalu membela beliau baik dengan jiwa maupun hartanya.

Setelah kematian Abu Thalib dan ibunda Khadijah yang berlangsung dalam waktu yang berdekatan, kemudian membuat kaum Quraisy semakin gencar memberikan gangguan serta siksaan kepada Rasulullah. Siksaan demi siksaan senantiasa beliau dapati dari orang-orang Quraisy, yang semasa Abu Thalib hidup tidak berani mereka lakukan. Orang-orang Quraisy semakin lancang dan tidak ragu-ragu lagi untuk mengganggu Rasulullah.

Karena kerasnya siksa kaum Quraisy ini, Rasulullah kemudian pergi mencari perlindungan dengan berdakwah ke Thaif. Tetapi beliau tidak sama sekali mendapati penduduk Thaif mau menerima dakwah beliau, apalagi menolong dan melindungi beliau. Beliau malah mendapatkan siksaan dan perlakuan yang lebih sadis dari apa yang dilakukan oleh kaum Quraisy.

Dikarenakan beruntunnya kesedihan demi kesedihan yang dialami oleh Rasulullah pada tahun tersebut, kemudian para ulama dalam kitab-kitab sirah dan Tarikh, menamakan tahun itu dengan sebutan “Tahun Kesedihan”.

Referensi : Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul Yang Agung, Syaikh Shafiyyurahman al-Mubarakfuri (Darul Haq : 2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *