Tanaman Dan Buah-Buahan Yang Diwajibkan Zakat – Alomuslim

Tanaman Dan Buah-Buahan Yang Diwajibkan Zakat

Tanaman Dan Buah Buahan Yang Diwajibkan Zakat

Alomuslim.com Hasil pertanian dan perkebunan (buah-buahan) diwajibkan secara keseluruhan. Kewajiban ini telah ditetapkan dalam Al Qur’an, Sunnah dan juga Ijma’ ulama, hanya saja mereka berbeda pendapat pada perinciannya. Para ulama bersepakat mewajibkan zakat pada jenis tanaman yang diambil zakatnya oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, yang terdapat dalam nash hadits, yaitu; qamh (gandum), sya’ir (salah satu jenis gandum), tamr (kurma) dan zabib (kismis/anggur yang dikeringkan).

Tetapi para ulama berbeda pendapat mengenai jenis-jenis yang tidak terdapat dalam nash hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Secara umum pendapat para ulama sebagai berikut :

1. Zakat hanya diwajibkan pada empat jenis tanaman yang disebutkan di atas, dan tidak diwajibkan pada selainnya.

Pendapat ini diambil oleh Ibnu Umar, Hasan Al-Bishri, Ats-Tsauri, Asy-Sya’bi, Ibnu Sirin dan selainnya dari kalangan ulama terdahulu. Demikian juga pendapat ini menjadi pendapat Imam Ahmad dan Ibnu Hazm, hanya saja hadits yang menyatakan “zabib” tidak sah menurutnya, karena itu dia tidak memasukkannya dalam kategori yang wajib di zakati.

Para ulama berpendapat dengan riwayat dari Abu Musa dan Mu’adz radhiyallahu ‘anhumma ketika diutus oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam ke Yaman -untuk mengajarkan ilmu agama- kemudian beliau menyuruhnya agar tidak mengambil zakat, kecuali dari empat jenis tanaman, yaitu; Hinthah (gandum), sya’ir, tamr, dan zabib.

2. Kewajiban zakat berlaku pada semua yang dijadikan makanan pokok dan dapat disimpan.

Ini merupakan pendapat para ulama dari kalangan madzhab Maliki dan Asy-Syafi’i. Adapun yang dimaksud dengan makanan pokok adalah yang dijadikan makanan pokok oleh manusia pada kondisi dapat memilih, bukan makanan yang dimakan pada saat krisis seperti, qamh, sya’ir, jagung, beras dan lainnya.

3. Kewajiban zakat berlaku pada semua yang dapat dikeringkan, bertahan lama, dan ditimbang.

Ini adalah riwayat yang paling masyhur dari Imam Ahmad. Dalam hal ini yang masuk kategori dalah biji-bijian buah-buahan yang ditimbang dan bertahan lama dan biji-bijian (kacang), kurma, kismis dan jenis buah kenari dan yang lainnya, karena masih memiliki spesifikasi yang sama. Tidak ada kewajiban pada semua buah-buahan, seperti buah kenari, apel dan yang lainnya, juga tidak pada sayur-mayur.

Dalil dari pendapat ini adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam

“Tidak ada kewajiban zakat pada sesuatu (hasil bumi) yang kurang dari 5 (lima) wasaq (+ 652,8 kg).” (HR. Bukhari 1447, Muslim 979)

4. Kewajiban zakat berlaku pada semua yang tumbuh dari tanah (hasil bumi) yang ditanam oleh manusia.

Ini adalah pendapat Umar bin Abdul Aziz rahimahullahu dan diikuti oleh Imam Abu Hanifah. Para ulama yang mengatakan pendapat ini berdasarkan firman Allah :

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu..” (QS. Al Baqarah : 267)

Juga berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam :

“Pada sesuatu (tanaman) yang dialiri oleh langit (hujan) -dikenakan zakat- sepersepuluh dan yang diairi dengan mengeluarkan biaya (zakatnya) setengah dari sepersepuluh.” 

Mereka yang berpendapat dengan pendapat ini berkata, ‘Tidak dibedakan antara yang dijadikan sebagai makanan pokok atau tidak, dikonsumsi atau tidak dikonsumsi, dan yang bertahan lama atau yang tidak.’

Sesuatu yang keluar dari bumi dapat tumbuh dan berkembang, karena itu ia wajib dizakati. Dalam zakat dan perkebunan tidak disyaratkan mencapainya haul, dan ini merupakan kesepakatan ulama. Berbeda dengan harta biasa yang wajib dizakati, ia disyariatkan agar melewati batas haul untuk memungkinan proses investasi. Wallahu a’lam.

Referensi : Shahih Fikih Sunnah Jilid 2, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *