tata cara berwudhu
BERSUCI, DASAR ISLAM

Tata Cara Berwudhu Yang Sesuai Dengan Tutunan Nabi SAW

Tata Cara Berwudhu Yang Sesuai Dengan Tutunan Nabi SAW – Wudhu merupakan ibadah yang disyariatkan setiap kali seorang muslim hendak melaksanakan shalat. Perkara mengenai wudhu menjadi penting, karena salah satu sebab sahnya shalat seseorang bergantung dari kesempurnaan wudhunya. Maka setiap umat muslim harus menjaga kesempurnaan wudhunya dengan memperhatikan tata cara berwudhu yang sesuai dengan sunnah baginda Nabi .

Berikut Tata Cara Berwudhu Yang Sesuai Dengan Sunnah Nabi  Berdasarkan Dalil Hadits Shahih.

1. Niat Berwudhu

tata cara berwudhu pertama niat

Niat disyaratkan agar wudhu menjadi sah, karena tanpa niat, amalan yang dikerjakan seseorang tidak akan bernilai ibadah. Niat adalah kemauan keras dalam hati, untuk melakukan ibadah dalam rangka melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah  bersabda :

“Sesungguhnya perbuatan tergantung pada niat, dan setiap orang mendapatkan sesuai niatnya.” (HR. Bukhari no. 1, Muslim no. 1907)

Niat tempatnya di dalam hati, bukan lisan sehingga tidak ada syariat untuk melafadzkan niat pada saat berwudhu. Hal ini berlaku tidak hanya pada wudhu, tetapi juga pada seluruh macam ibadah : shalat, zakat, puasa, haji, jihad dan lain sebagainya. Jika seseorang hanya melafadzkan dengan lisannya, sementara tidak ada niat dalam hatinya maka hal itu tidak dianggap sah, karena niat adalah tujuan dan keinginan, apabila tidak ada niat makan tidak ada tujuan dan keinginan dari amalan yang dikerjakannya.

Baca Juga : Wudhu, Amalan Penghapus Dosa Anggota Badan

Berdasarkan hal tersebut, seseorang tidak harus mengucapkan lafadz-lafadz tertentu sebelum berwudhu, tapi cukup dengan mengungkapkan dalam hati keinginan untuk berwudhu tanpa susunan lafadz apapun, seperti nawaitu, ushalli dan yang sebagainya, karena hal tersebut tidak ada contohnya dari baginda Nabi .

2. Mengucapkan “Bismillah”

Anjuran ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu, Rasulullah :

“Tidak (sempurna) wudhu seseorang yang tidak menyebut Nama Allah padanya.” (HR. Ahmad II/418, Abu Dawud no. 101, dan yang lainnya)

Para ulama berpendapat bahwa hukum mengucapkan ‘Bismillah’ adalah wajib berdasarkan keterangan hadits tersebut, sehingga bagi seseorang yang tidak mengucapkannya, harus mengulangi wudhunya karena akan berakibat pada keabsahan shalatnya.

3. Membasuh Kedua Telapak Tangan

tata cara berwudhu membasuh kedua telapak tangan

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Humran bin Aban bahwa ‘Utsman bin Affan radhiallahu anhu meminta air berwudhu, lalu ia membasuh kedua telapak tangannya tiga kali.. kemudian ia berkata, “Aku melihat Rasulullah berwudhu seperti wudhuku ini.” (HR. Bukhari no. 159, Muslim no. 226)

Membasuh kedua telapak tangan tidak hanya pada sisi telapaknya saja, tetapi juga pada bagian punggung tangan, sampai pada batas pergelangan tangan.

4. Berkumur Dan Memasukkan Air Kedalam Hidung

tata cara berwudhu berkumur

Perintah berkumur-kumur terdapat dalam beberapa hadits dari para sahabat, diantaranya adalah yang diriwayatkan dari Luqaith bin Shabrah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah  :

“Jika kamu berwudhu maka berkumur-kumurlah.” (HR. Abu Dawud no. 140, At Tirmidzi no. 38, An Nasa’i 1/66, Ibnu Majah no. 448)

Dan dari ‘Amr bin Yahya radhiallahu anhu, dalam haditsnya ia berkata, “Lalu ia (Abdullah bin Zaid) berkumur-kumur, menghirup air ke dalam hidung dan menyemburkannya (dilakukan) tiga kali cidukan.” (HR. Bukhari no. 186, Muslim no. 235)

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum berkumur-kumur, apakah wajib atau hanya sunnah. Imam An Nawawi rahimahullahu berkata, “Dalam hadits ini ada dalil yang jelas bahwa pendapat yang shahih lagi terpilih bahwa yang sesuai dengan sunnah ialah berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung..”  (syarh shahih Muslim III/122)

Berdasarkan keterangan hadits dari ‘Amr bin Yahya radhiallahu anhu tersebut juga bisa diambil sebuah kesimpulan, bahwa berkumur-kumur dilakukan bersamaan dengan menghirup air ke dalam hidung dalam setiap cidukan, tidak dilakukan terpisah, dengan melakukan kumur-kumur terlebih dahulu baru kemudian menghirup air ke dalam hidung dengan cidukan air yang berbeda.

5. Membasuh Wajah Disertai Menyela-nyela Jenggot

Batas panjang wajah itu dari tempat tumbuhnya rambut di kepala (atas dahi atau kening) hingga tempat tumbuhnya jenggot dan dagu, sedangkan lebarnya dari pinggir telinga sampai pinggir telinga yang lainnya. Membasuh wajah merupakan salah satu rukun yang Allah perintahkan dengan firman-Nya :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ… ٦

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu hendak melaksanakan shalat maka basuhlah wajahmu..” (QS. Al Ma’idah : 6)

Dan perintah untuk menyela-nyelai jenggot terdapat dalam hadits yang disampaikan oleh Anas bin Malik radhiallahu anhu, bahwasanya Nabi  apabila berwudhu, beliau mengambil seciduk air (di telapak tangan beliau), kemudian memasukkannya ke bawah dagunya, lalu beliau menyela-nyela jenggotnya dangan air itu seraya bersabda, “Beginilah Rabb-ku Azza Wa Jalla menyuruh diriku.” (HR. Abu Dawud no. 145, Al Baihaqi I/154, Al Hakim 1/149)

Perintah menyela-nyelai jenggot ini wajib hukumnya untuk mereka yang memiliki jenggot yang lebat agar air wudhu bisa meresap ke dalam kulitnya, sementara bagi yang memiliki jenggot hanya sedikit, maka hukumnya sebatas sunnah.

6. Membasuh Kedua Tangan Sampai Siku

Siku adalah sendi (tempat persambungan) antara lengan bawah dengan lengan atas. Allah Ta’ala berfirman :

… وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى ٱلۡمَرَافِقِ.. ٦

“..Dan basuhlah tanganmu sampai ke siku..” (QS. Al Ma’idah : 6)

Berdasarkan ayat di atas, wajib hukumnya mengikutsertakan siku pada saat membasuh tangannya tidak hanya sebatas lengan tangan saja. Berdasarkan keterangan dari hadits yang disampaikan oleh Humran bin Aban, ketika ‘Utsman bin Affan radhiallahu anhuma mengajarkan sifat wudhu Nabi , kemudian disebutkan :

“Lalu ia (Utsman) membasuh tangan kanannya sampai siku tiga kali, lantas membasuh tangan kirinya seperti itu juga.” (HR. Bukhari no. 159, Muslim no. 226, dan yang lainnya)

Pada saat membasuh kedua tangan juga disertai dengan menyela-nyelai jari agar tidak ada bagian anggota tubuh yang terlewat dari air wudhu.

7. Mengusap Kepala Dan Telinga

Hal ini berdasarkan firma Allah Ta’ala

..وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ .. ٦

“Dan usaplah kepalamu..” (QS. Al Ma’idah : 6)

Cara mengusap kepala adalah dengan dimulai dari bagian depan dan berakhir di ujung tengkuk, kemudian kembali lagi ke bagian depan dari kepala. Mengusap kepala yang dianggap telah memenuhi kewajiban yaitu dengan meratakan seluruh kepala dengan usapan air.

Sementara hukum mengusap kedua telinga sama dengan hukum mengusap kepala, yaitu wajib. Sebab, kedua telinga itu termasuk bagian kepala. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Umamah radhillahu anhu, ia berkata :

“Nabi pernah berwudhu, lalu beliau membasuh wajahnya tiga kali, membasuh kedua tangan tiga kali dan mengusap kepalanya, dan beliau bersabda, ‘Kedua telinga itu bagian dari kepala’.” (HR. At Tirmidzi no. 37, Abu Dawud no. 134, Ibnu Majah no. 444)

Cara mengusap telinga berdasarkan hadits dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu anhu –tentang sifat wudhu-, ia berkata :

“…Lalu beliau mengusap kepala dan memasukkan kedua jari telunjuknya ke kedua telinganya, lantas mengusap bagian luar kedua telinganya dengan kedua ibu jarinya dan mengusap bagian dalam telinganya dengan kedua jari telunjuknya.” (HR. Abu Dawud no. 135, An Nasa’i 1/88, Ibnu Majah no. 422, Al Baihaqi I/79)

Hendaknya ketika mengusap kedua telinga tidak mengambil air baru, cukup dengan menggunakan air sisa dari mengusap kepala. Hal ini berdasarkan keterangan hadits di atas.

8. Membasuh Kaki Dan Menyela-nyela Jari Kaki

tata cara berwudhu membasuh kaki

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

…وَأَرۡجُلَكُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِۚ.. ٦

“..Dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki..” (QS. Al Ma’idah : 6)

Juga diwajibkan untuk menyela-nyelai jari jemari kaki, berdasarkan hadits dari Mustaurid bin Syaddad Al Fihri radhiallahu anhu, ia berkata :

“Aku pernah melihat Rasulullah , apabila beliau berwudhu, beliau menggosok jari-jemari kedua kakinya dengan jari kelingkingnya.” (HR. Abu Dawud no. 148, At Tirmidzi no. 40, Ibnu Majah no. 446)

Perintah menyela-nyelai jari jemari kaki sama dengan ketika menyela-nyelai jari jemari tangan berdasarkan hadits riwayat Ibnu Abbas radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah  bersabda :

“Apabila engkau berwudhu, maka sela-selailah jari-jemari tangan dan kakimu.” (HR. At Tirmidzi no. 39, Al Hakim I/182, Ibnu Majah no. 447)

9. Berdoa Setelah Wudhu

Ada dua macam doa setelah wudhu yang shahih dari Rasulullah , yang keduanya memiliki keutamaan masing-masing.

Pertama, dari Amirul Mukminin Umar Ibnul Khaththa radhiallahu anhu, ia mengatakan :

“Rasulullah bersabda, ‘Tidak seorangpun diantara kamu yang berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian membaca :

Asyhadu allaa ilaaha illalloohu wahdahuu laa syariika lahu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhuuwa rosuuluhuu, alloohummaj’alnii minat tawwaabiina waj’alnii minal mutathohhiriina

Melainkan akan dibukakan baginya delapan pintu surga, yang ia boleh masuk dari mana saja yang ia kehendaki’.” (HR. Muslim no. 234, At Tirmidzi no. 55, Abu Dawud no. 169, dan yang lainnya)

Kedua, dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu anhu, ia berkata : “Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa yang berwudhu, kemudian seusai berwudhu ia membaca : Subhanaka allahumma wabihamdika, asyhadualaa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaika. Maka akan ditulis di kertas putih, kemudian dialihkan pada stempel yang tidak akan pecah sampai hari kiamat.” (HR. An Nasa’i no. 9829, Al Hakim I/564)

Wallahu ‘alam

Referensi :

  • 1000 Amalan Sunnah Sehari-hari, Khalid Al Husainan (Media Tarbiyah : 2016)
  • Shahih Fikih Sunnah Jilid 1, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)
  • Minhajul Muslim, Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri (Darul Haq : 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *