Tata Cara Mandi Besar Yang Benar Menurut Fikih Islam

Cara Mandi Besar Yang Benar

Tata Cara Mandi Besar Yang Benar Menurut Fikih Islam – Bagi seorang muslim, ketika mereka sedang dalam kondisi junub, maka mandi jinabat atau yang sering kita sebut dengan mandi besar adalah satu kewajiban yang harus dilakukan. Mandi jinabat inilah yang akan mensucikan tubuh kita dari hadats besar.

Junub sendiri terjadi ketika tiga kondisi berikut ini kita alami, yakni :

1. Keluar Mani

Cara Mandi Besar Yang Benar keluar mani

Mani adalah cairan yang keluar dari (maaf) kemaluan, baik laki-laki maupun perempuan, baik dalam kondisi terjaga maupun tidak. Keluarnya mani bisa disebabkan karena mimpi, perilaku, ataupun hanya dari pengelihatan dan angan-angan yang disertai dengan ‘nafsu‘.

2. Jima’

Cara Mandi Besar Yang Benar bersetubuh

Dalam bahasa sehari-hari kita biasa disebut dengan bersetubuh. Satu aktivitas dimana laki-laki dan perempuan bercampur dan menyebabkan keluarnya air mani dari kemaluan keduanya. Sedangkan mandi besar untuk orang ber-jima’ adalah wajib, baik keluar mani maupun tidak. Selama diantara kedua kemaluan yang berbeda jenis itu bertemu berarti seseorang tersebut dalam kondisi junub dan harus mandi jinabat untuk mensucikan diri. Firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 6, yang artinya :”Dan jika kamu junub, maka mandilah.”(QS.Al-Maidah)

3. Haid/Nifas

Cara Mandi Besar Yang Benar Haid atau Nifas

Khusus wanita, kondisi ketiga yang mewajibkan mereka mandi besar dengan benar adalah ketika mereka nifas. Maka setelah selesai masa nifas atau darah haid tak lagi keluar, harus mensucikan seluruh tubuh dari hadats besar dengan cara mandi jinabat.

Seorang wanita yang sedang dalam masa haid atau nifas juga mendapat keringanan-keringanan tertentu dalam rutinitas peribatan menurut islam, yakni tidak diwajibkan untuk shalat dan juga puasa jika ramadhan. Untuk kewajiban shalat sendiri, seorang wanita yang terpaksa meninggalkan shalat ketika masa haid/nifasnya tidak diwajibkan untuk mengganti ibadah shalat yang ditinggal. Berbeda dengan kewajiban puasa, karena setelah dalam keadaan yang suci si wanita tersebut harus tetap mengganti sejumlah puasa yang ditinggalkan, diluar bulan ramadhan.

Bolehkah Shalat Dalam Kondisi Junub?

Lalu, setelah kita mengetahui apa saja yang menyebabkan seseorang masuk dalam kondisi junub, bagaimana cara mandi besar yang benar menurut Fikih? Hal ini tentu harus kita pelajari bersama, mengingat bersuci adalah salah satu dari rukun shalat (wudhu). Sedangkan wudhu saja tak dapat mensucikan diri kita dari hadats besar, kecuali hanya dengan mandi besar atau jinabat.

Syeikhul islam ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu al Fatawa, berkata beliau :”Bersuci dari janabah adalah kewajiban. Tak diperbolehkan seseorang menjalankan shalat dalam kondisi junub dan tidak pula ber-hadats hingga dida bersuci.” (Majmu al Fatawa – juz IV hal 454).

Rasulullah SAW pun pernah bersabda, yang diriwayatkan dalam sebuah hadits sahih. Dari Ibnu Umar Ra, bersabda Rasulullah SAW :”Shalat tidak akan diterima yang dilakukan tanpa bersuci.” (HR.Muslim, Abu Daud, dll)

Maka, dari hadits diatas jelas sudah bagaimana hukum shalat dalam keadaan junub. Bahkan Rasulullah SAW sendiri menyatakan bahwa seseorang tidak akan diterima shalatnya jika tidak dalam kondisi yang suci lahir dan batinya. Sedangkan orang yang junub sudah tentu ber-hadats dan tidak suci secara lahir. Maka dari itu wajib bagi kita untuk segera mandi besar atau jinabat untuk membersihkan diri dari hadats besar.

Cara Mandi Besar Yang Benar (Jinabat)

Cara Mandi Besar Yang Benar 1

Alasan yang membuat kita harus mengetahui tentang tata cara mandi besar yang benar menurut fikih (mandi jinabat) adalah, karena saling berkaitan dengan ibadah-ibadah lainnya. Orang yang dalam kondisi junub, tidak boleh atau dilarang untuk mengerjakan ibadah-ibadah baik yang wajib maupun ibadah yang sunnah, diantaranya seperti shalat, melefalkan bacaan dari AlQur’an, menyentuh al-Qur’an/mushaf, Thawaf, bahkan hanya untuk berdiam diri atau duduk-duduk di masjid saja tidak diperkenankan.

Lalu bagaimana cara mandi besar yang benar?

Ada dua rukun dalam pelaksanaan mandi jinabat atau mandi besar yang benar dan harus dilakukan, yakni niat dan mengguyur keseluruhan anggota badan, baik yang terlihat jelas maupun yang tidak.

Untuk rukun mandi besar yang pertama, yakni tentang niat, hal ini bisa dilakukan dengan lisan maupun di batin saja. Namun, sebagian ulama’ menganjurkan untuk lebih afdholnya agar dilafalkan, karena pada dasarnya setiap orang memiliki tingkat konsentrasi yang berbeda.

Jika orang yang bisa fokus, maka hanya berucap dalam hati saja niatnya sudah benar-benar bisa tertanam dalam jiwa dan pikirannya. Tapi berbeda dengan mereka yang tingkat keilmuannya belum sampai dalam tataran tersebut, maka mengucapkan dengan cara dilisankan akan membantu fokusnya pikiran dan hati mereka pada niat untuk mandi besar(jinabat). bukankah niat adalah salah satu yang paling menentukan untuk satu tindakan manusia?

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafs ‘Umar Bin Al Khattab R.a, berkata bahwa pernah suatu ketika beliau mendengar sabda Rasulullah SAW,”Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berikut ini lafadz niat mandi besar yang bisa kita gunakan :

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ اْلحَدَثِ اْلأَكْبَرِ مِنَ اْلِجنَابَةِ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى

artinya :

Aku niat mandi untuk menghilangkan hadats besar dari jinabat, fardhu karena Allah ta’ala.

Atau kita bisa menggunakan artinya dalam bahsa Indonesia saja. Begitu juga jika kita ingin menggunakan kalimat lainnya, yang pasti adalah ucapkan untuk niat mandi jinabat demi membersihkan hadats besar Lillahi ta’alla.

Menurut madzab Al Imam Asy Syafi’i, bacaan niat iharus dilakukan bersamaan dengan saat kita mulai mengguyurkan ke tubuh untuk pertama kalinya. lalu dilanjutkan dengan guyuran-guyuran berikutnya, yang merupakan rukun kedua mandi besar atau mandi jinabat. Air yang diguyurkan ke tubuh ini haruslah mengalir secara keseluruhan di semua anggota tubuh, baik yang mudah terlihat oleh mata maupun yang sulit seperti kulit kepala. Begitu juga dengan seluruh bagian tubuh yang tertutup dengan bulu.

Cara Mandi Besar yang Benar – Kitab Bidayatul Hidayah Imam al-Ghazali

Dalam Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa selain kedua rukun mandi jinabat yang wajib, ada pula beberapa teknis yang di sunnahkan dalam tata cara mandi besar/jinabat. Imam Ghazali bahkan menjelaskan adab mandi besar ini secara cukup detail dari mulai masuk ke tempat pemandian/kamar mandi hingga saatnya keluar. Diantaranya adalah :

Pertama, ketika baru saja masuk ke dalam kamar mandi, dianjurkan untuk mengambil air dalam genggaman lalu membasuhkannya ke tangan hingga 3x.

Kedua, bersihkan dahulu badan dari najis dan kotoran-kotoran yang dirasa masih ada.

Ketiga, ambil air wudhu seperti pada umumnya.

Keempat, selepas ber-wudhu mulailah kita mengguyurkan air dari kepala hingga hitungan ketiga, dengan mengucapkan niat mandi besar baik lisan maupun batin.

Kelima, mengguyur badan dimulai dari tubuh bagian kanan 3x lalu dilanjutkan tubuh bagian kiri 3x.

Selanjutnya kita mulai meratakan air hingga keseluruh bagian-bagian badan. Guyur kembali bagian kepala dan pastikan sela-sela rambut sudah basah hingga air sampai ke kulit kepala, begitupula dengan jenggot, kumis, dll kalau punya. Lipatan-lipatan di kulit, sela-sela jari juga jangan sampai ketinggalan. Hindari utnuk menyentuh kemaluan, karena akan membatalkan wudhu. Jikapun itu terjadi menurut Imam al-Ghazali hendaknya kita ber-wudhu lagi.

Penutup

Apa yang disampaikan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hikmah tersebut bukanlah satu kewajiban atau tata cara yang harus dilakukan ketika mandi jinabat, melainkan aktivitas unnah yang boleh dikerjakan maupun tidak. Sedangkan yang wajib dan merupakan rukun kesempurnaan mandi besar yang benar menurut fikih hanyalah niat, membersihkan tubuh darii najis yang tersisa (jikalau ada), dan mengguyur seluruh anggota tubuh dengan air.

Wallahu a’lam bishawab

Sumber

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *