12 Tata Cara Memandikan Jenazah Yang Harus Kamu Tahu !!

Alomuslim.com – Tata cara memandikan jenazah, Hukum asal memandikan jenazah adalah fardhu kifayah, ini berdasarkan pendapat sebagian besar ulama. Diantaranya adalah Imam An Nawawi, beliau berkata bahwa hal itu merupakan ijma’ (kesepakatan) ulama. Berdasarkan pendapat itu, maka jika seorang muslim meninggal, baik orang dewasa maupun anak kecil, baik jasadnya utuh atau hanya sebagiannya saja, hendaknya ia dimandikan.

Akan tetapi hukum tersebut tidak berlaku pada beberapa orang yang meninggal seperti, orang yang mati syahid dalam jihad fisabilillah, orang diluar agama islam serta bayi yang meninggal dalam kandungan sebelum berusia empat bulan, karena belum ditiupkan ruh pada bayi tersebut.

Seputar Tata Cara Memandikan Jenazah

Untuk mempermudah memahami tata cara memandikan jenazah, maka akan diringkaskan dari beberapa sumber hadits shahih mengenai hal tersebut.

1. Melepas pakaian mayit dan meletakkan kain penutup pada auratnya

Dari Aisyah radhiallahu anha, tentang kisah wafatnya Rasulullah ﷺ, ia berkata, “Ketika orang-orang hendak memandikan Nabi, mereka berkata : ‘Demi Allah! Kami tidak tahu apakah kami harus melepas pakaian Nabi sebagaimana kami melepas jenazah yang lainnya atau kami memandikannya dengan tanpa melepas pakaiannya..” (HR. Abu Dawud no. 3141, Hakim 3/59, Ahmad 6/267 dan Al Baihaqi 3/387)

Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa para Sahabat ridwanallahu alaihi jami’an, biasa melepaskan pakaian mayit ketika memandikannya. Akan tetapi hendaknya ia menutup aurat si mayit dengan kain. Hal ini berdasarkan keumuman hadits Nabi ﷺ :

“Janganlah seseorang laki-laki melihat aurat laki-laki lainnya dan tidak pula seorang wanita melihat aurat wanita lainnya..” (HR. Muslim no. 338)

2. Memandikan mayit dengan lembut

Hendaklah seseorang yang memandikan mayit menggunakan sarung tangan dan kemudian menekan perut mayit dengan pelan agar kotoran yang ada di dalamnya keluar. Hal ini berdasarkan keumuman hadits Nabi ﷺ :

“Sesungguhnya bersikap lembut tidak terjadi pada sesuatu kecuali dengan membaguskannya, dan bersikap kasar tidak pula terjadi pada sesuatu kecuali membuatnya jelek.” (HR. Muslim no. 2594)

Juga, karena kehormatan seorang muslim yang sudah meninggal dunia adalah sama dengan ketika dia masih hidup, dimana ia tidak berlaku kasar dan menyakiti saudaranya. Hal ini seperti yang disabdakan Rasulullah ﷺ :

“Mematahkan tulang mayit itu seperti mematahkan tulang orang yang masih hidup.” (HR. Abu Dawud no. 3207, Ibnu Majah no. 1616, Ahmad 6/58)

3. Memandikan mayit dengan air dan diberi daun bidara (atau sabun dan semisalnya) pada awal memandikannya

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu :

“Bahwasanya Nabi ﷺ bersabda tentang laki-laki yang jatuh tersungkur dari hewan tunggangannya hingga meninggal, ‘Mandikanlah ia dengan air dan daun bidara, serta kafanilah dengan dua helai kain’.” (HR. Bukhari 2/96, Muslim 2/865)

4. Hendaknya memulai dari yang kanan dan anggota-anggota wudhu setelah niat dan ‘Bismillah’

Dalam sebuah riwayat yang diceritakan oleh Ummu Athiyah, ketika memandikan putri baginda Nabi ﷺ. Rasulullah ﷺ memerintahkan :

“Mulailah dengan bagian tubuh kanannya dan anggota wudhunya.” (HR. Bukhari 2/93-94, Muslim 2/648)

Mewudhukan mayit sebagaimana wudhu orang yang hendak menunaikan shalat. Termasuk dalam perihal wudhu adalah berkumur-kumur. Namun jika berkumur-kumur bisa menyebabkan kemudharatan, seperti masuknya ke dalam jasad sehingga merusaknya, maka lebih baik hanya dengan membersihkan gigi dan hidungnya denga kain yang dibasahi.

5. Menyiramkan kepala mayit dengan air dan daun bidara (sabun) hingga masuk ke tempat tumbuhnya rambut dan menyela-nyelanya dengan lembut

Ketika Nabi ﷺ memandikan jenazah, beliau mengusap kepala mayit dengan kedua telapak tangan beliau sebanyak tiga kali usapan dan menyela-nyela kepalanya hingga sampai pada tempat tumbuh rambut.

6. Menyiramkan bagian tubuh mayit

Membasuh seluruh tubuh mayit dimulai dari anggota tubuh yang paling atas hingga anggota tubuh yang paling bawah sebanyak tiga kali. Dimulai dari leher bagian kanan dengan mengguyurkan air hingga ke kepala bagian kanan. Kemudian menyiramkan dada, paha, betis sambil menggerak-gerakannya supaya air bisa masuk ke sela-sela dan memasukkan tangan untuk membersihkan antara kedua pahanya, lalu menyiramkan air di sebelah kanan bagian belakang. Setelah selesai dengan sisi sebelah kanan, kemudian menyiramkan bagian kiri tubuh mayit.

7. Mengambil secarik kain yang telah dibasahi dan mengusap kepala bagian belakang, punggung dan pantat

Hal yang demikian juga dilakukan pada bagian depan mayit.

8. Mengulang-ulang dalam memandikannya hingga benar-benar bersih dari kotoran

Dari Ummu Athiyah radhiallahu anha, ia berkata :

“Nabi masuk menemui kami saat kami sedang memandikan putrinya, lalu beliau bersabda : ‘Mandikanlah ia tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika kalian menganggapnya perlu..” (HR. Bukhari 2/93, Muslim 2/646-647)

Disunnahkan memandikannya dalam jumlah yang ganjil.

9. Tambahkan kapur barus (atau misik dan semisalnya) pada bagian akhir saat memandikan

Ummu Athiyah radhiallahu anha menceritakan, Rasulullah ﷺ memerintahkan :

“Dan jadikan pada tuangan terakhir kapur barus atau sedikit dari kapur barus.” (HR. Bukhari 2/93, Muslim 2/646-647)

10. Menyisir rambut dan manjalinnya hingga menjadi tiga kepang

Jika mayitnya seorang Muslimah, maka uraikan ikatan rambutnya dan membasuhnya, kemudian menggelungkannya kembali menjadi tiga kepangan. Pengepangan ini dilakukan pada bagian akhir saat memandikan. Berdasarkan ucapan Ummu Athiyah, karena Rasulullah ﷺ telah memerintahkannya, :

“Mereka mengurai rambut putri Rasulullah menjadi tiga kepangan, kemudian memandikannya dan menjadikannya tiga kepangan lagi kemudian meletakkannya dibagian belakang” (HR. Bukhari no. 1260, 263)

11. Pendapat sebagian ulama, hendaknya setelah selesai memandikan jenazah, kedua tangannya

Pendapat sebagian ulama, hendaknya setelah selesai memandikan jenazah, kedua tangannya didekapkan diatas perutnya, diluruskan kaki dan tumitnya, dilekatkan kedua mata kakinya, dirapatkan kedua pahanya, lalu dikeringkan badannya dengan kain. Mereka juga menganjurkan menekan perut mayit, agar keluar kotoran yang ada didalamnya ketika memandikan mayit, dan tidak mengapa jika harus mendudukkannya paad bagian akhir saat memandikan.

12. Tidak boleh menyentuh aurat mayit dengan tangan langsung kecuali terpaksa

Orang yang memandikan jenazah hendaknya menyarungkan tangannya dengan kaus tangan atau semisalnya, agar tidak langsung menyentuh aurat mayit. Karena melihatnya saja haram, maka demikian halnya dengan menyentuh atau memegangnya. (Al Umm 1/249)

Wallahu ‘alam.

Referensi :

  • Minhajul Muslim, Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jaza’iri (Darul Haq : 2016)
  • Shahih Fikih Sunnah, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)
  • Bulughul Maram, Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani (Darul Haq : 2016)

Leave a Comment