nabi dan rasul saling bersaudara
KISAH NABI DAN RASUL

Ternyata Para Nabi Dan Rasul Saling Bersaudara

Alomuslim.com Nabi Dan Rasul Saling Bersaudara Menulusuri pohon nasab atau silsilah keluarga para Nabi dan Rasul semua akan memiliki muara yang sama, yakni pada Nabi Nuh alaihissalam dan pastinya semua bermula pada Nabi Adam alaihissalam. Nabi Nuh dianggap sebagai bapak dari umat manusia yang kedua setelah Nabi Adam, yang memang merupakan manusia paling pertama diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa ta’ala.

Jauh sebelum Nabi Nuh diutus oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk mendakwahkan tauhid kepada umat manusia, telah berlalu beberapa Nabi dan Rasul. Pertama Nabi Adam, namun beliau tidak diutus kepada sebuah kaum, sehingga sebagian ulama menganggap Nabi Adam bukan sebagai Rasul, tetapi hanya sebagai Nabi. Beliau memiliki beberapa putra dan putri yang kemudian berkembang menjadi sebuah bangsa. Qabil, yang merupakan nenek moyang dari bangsa dengan orang-orang yang membangkang dari hukum Allah dan senang berbuat kerusakan.

Baca Juga : Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad SAW

Sementara Habil, yang merupakan manusia pertama yang dibunuh dan dilakukan oleh saudaranya sendiri, tidak sampai memiliki keturunan. Namun setelah kematian Habil, Allah menganugerahkan kepada Nabi Adam seorang putra yang shalih yakni, Syiyts. Syiyts memiliki keturunan yang digambarkan sebagai bangsa yang baik dan taat kepada hukum Allah. Bahkan sebagian dari keturunan Syiyts inilah Allah jadikan sebagai Nabi dan Rasul.

Berlalu beberapa masa, kurang lebih enam generasi setelah Nabi Adam Alaihissalam, dimana manusia telah hidup berbangsa-bangsa dan kejahatan menyebar ditengah-tengah mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengutus seorang Rasul yang pertama yaitu Nabi Idris Alaihissalam. Nabi Idris yang berasal dari garis keturunan Syiyts, diutus untuk berdakwah kepada umat manusia dari keturunan Qabil, yang gemar berbuat dosa dan maksiat di muka bumi.

Beberapa abad setelah diutusnya Nabi Idris, dimana keadaan manusia telah kembali pada kemaksiatan dan melupakan ajaran Nabi Idris, kemudian Allah mengutus Nabi Nuh Alaihissalam untuk mendakwahi mereka. Nabi Nuh Alaihissalam berdakwah hingga usia beliau mencapai 950 tahun.

Baca Juga : Kisah Ibu Susuan Nabi Muhammad SAW

Beliau menghadapi ujian yang teramat berat selama ratusan tahun berdakwah karena seluruh umatnya menentang bahkan istri dan salah seorang anaknya menolak dakwah beliau. Hingga akhirnya terjadi sebuah peristiwa besar yang akan selalu diingat oleh setiap umat manusia. Yakni peristiwa banjir besar, yang telah menewaskan seluruh umat manusia yang menolak dakwah Nabi Nuh.

Manusia yang bertahan hidup pada saat itu hanyalah keluarga Nabi Nuh dan beberapa orang pengikutnya saja sekitar 80 orang. Dan seperti yang dikisahkan dalam beberapa kitab sirah, bahwa hanya anak-anak Nabi Nuh saja yang memiliki keturunan, sementara yang lainnya tidak memiliki keturunan. Oleh sebab itulah Nabi Nuh dianggap sebagai bapak dari umat manusia setelah Nabi Adam.

Nabi Nuh Alaihissalam memiliki tiga orang anak yang memiliki keturunan yang banyak dan menjadi nenek moyang dari bangsa manusia yang ada di dunia hari ini, yaitu : Sam, Ham dan Yafith. Dari keturunan Sam inilah yang dikemudian hari menjadi bangsa Arab, yang juga banyak diantaranya Allah berikan keistimewaan menjadi Nabi dan Rasul.

Salah satu cucu dari Sam adalah Nabi Hud, yang diutus kepada kaum ‘Aad di negeri Yaman, yang merupakan umat tertua dari bangsa Arab. Kaum ‘Aad merupakan masyarakat yang sombong dan merasa sebagai yang paling kuat di muka bumi, sehingga mereka menolak dakwah Nabi Hud untuk menyembah Allah. Oleh karenanya mereka dihancurkan dengan angin topan selama 7 hari yang dikirim oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Setelah Allah Subhanahu Wa Ta’ala menghancurkan peradaban kaum ‘Aad, tiga generasi kemudian Allah mengutus Nabi Shalih Alaihissalam kepada kaum Tsamud yang mendiami negeri bekas kaum ‘Aad. Nabi Shalih juga merupakan keturunan dari Sam putra Nabi Nuh, sehingga Nabi Hud dan Nabi Shalih masih memiliki hubungan saudara.

Di negeri yang berbeda tepatnya di Babylonia, dua generasi setelah masa Nabi Shalih diutus, lahirlah Rasul mulia yang bergelar Khalilullah (kekasih Allah), bapak dari para Nabi dan Rasul agama samawi (dari langit), satu-satunya manusia yang tidak berbuat kesyirikan di muka bumi pada masanya dialah Nabi Ibrahim alaihissalam. Beliau merupakan generasi kedelapan dari Sam putra Nabi Nuh. Pada masa yang bersamaan, Allah juga mengutus Nabi Luth Alaihissalam kepada bangsa Sadum (Sodom) dan Gomorrah di negeri Syam. Nabi Luth merupakan anak dari saudara kandung Nabi Ibrahim.\

Baca Juga : Kisah Gadis Penjual Susu

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi Ibrahim memiliki beberapa orang anak, dua orang diantaranya merupakan Nabi dan Rasul yakni Ismail dan Ishaq. Nabi Ismail Alaihissalam merupakan orang pertama bersama ibunya yang mendiami tanah yang hari ini dikenal dengan nama kota Makkah, yang juga merupakan moyang dari Rasulullah . Sementara Nabi Ishaq Alaihissalam, memiliki dua orang anak kembar yang kelak melahirkan beberapa Nabi dan Rasul juga, yakni Aish dan Nabi Ya’qub Alaihissalam.

Nabi Ya’qub dikenal juga dengan nama Israil sehingga keturunannya disebut sebagai Bani Israil dan kemudian menjadi bangsa Yahudi. Nabi Ya’qub memiliki 12 orang anak, diantaranya seorang putra yang Allah angkat menjadi Nabi dan Rasul juga, yaitu Nabi Yusuf Alaihissalam. Seluruh Bani Israil berasal dari 12 orang putra Nabi Ya’qub, yang dikemudian hari juga melahirkan Nabi dan Rasul. Dalam bangsa Yahudi, ada sebutan yang dikenal dengan Sibith atau dalam bangsa Arab dikenal dengan suku. Dan masing-masing anak Nabi Ya’qub kemudian menjadi bapak bagi Sibith bani Israil.

Sibith Lewi yang diantara keturunannya ada Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Ilyas dan Nabi Ilyassa. Nabi Musa dan Nabi Harun merupakan adik dan kakak dan keturunan keempat dari Nabi Ya’qub, sementara Nabi Ilyas dan Nabi Ilyassa merupakan ayah dan anak. Sibith Bunyamin hanya ada satu orang diantara keturunannya yang Allah angkat menjadi Rasul, yakni Nabi Yunus, yang dikenal dengan kisah ditelan oleh ikan raksasa.

Kemudian dari Sibith Yahuda, diantara keturunannya ada Nabi Daud, Nabi Sulaiman, Nabi Zakaria, Nabi Yahya dan Nabi Isa. Nabi Daud dan Nabi Sulaiman merupakan ayah dan anak, demikian juga dengan Nabi Zakaria dan Nabi Yahya. Sementara Maryam, ibu dari Nabi Isa merupakan kemenakan dari Nabi Zakaria, sehingga Nabi Isa merupakan sepupu bagi Nabi Yahya.

Dari Aish putra Nabi Ishaq, yang merupakan saudara kembar sekaligus kakaknya Nabi Ya’qub, memiliki anak yakni Nabi Ayyub Alaihissalam. Jadi Nabi Ayyub merupakan cucu dari Nabi Ishaq, kemenakan dari Nabi Ya’qub dan sepupu bagi Nabi Yusuf. Nabi Ayyub kemudian memiliki anak yang diangkat menjadi seorang Rasul juga yakni, Nabi Zulkifli Alaihissalam.

Berikutnya ada Nabi Syu’aib, yang Allah utus kepada bangsa Madyan. Bani Madyan adalah keturunan dari Madyan, yang merupakan salah seorang putra dari Nabi Ibrahim Alaihissalam. Menurut beberapa riwayat, Nabi Syu’aib masih keturunan dari Nabi Ibrahim dan juga Nabi Luth, karena ayah Nabi Syu’aib masih salah seorang keturunan dari Nabi Ibrahim yang termasuk dari Bani Madyan dan ibunya merupakan keturunan dari Nabi Luth. Nabi Syu’aib hidup sezaman dengan Nabi Musa. Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa keduanya bertemu, dan Nabi Musa kemudian dinikahkan dengan salah seorang putri Nabi Syu’aib.

Dan penghulu dari para Nabi dan Rasul adalah Muhammad, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, yang diutus ditengah-tengah bangsa Arab untuk membenarkan dan menyempurnakan ajaran para Nabi dan Rasul sebelum beliau. Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam berasal dari keturunan yang mulia diantara bangsa-bangsa di Arab dan merupakan keturunan dari Nabi Ibrahim melalui jalur nasab Nabi Ismail.

Demikianlah sekelumit jalur persaudaraan para Nabi dan Rasul, semenjak Nabi Adam Alaihissalam  hingga Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam, dan hal ini juga ditegaskan dengan sabda baginda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam :

“Aku adalah orang yang paling dekat dan paling mencintai Isa bin Maryam di dunia maupun akhirat. Para Nabi itu adalah saudara seayah walau ibu mereka berlainan, dan agama mereka adalah satu.” (HR. Bukhari, Muslim)

Wallahu ‘Alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *