Kisah Tobatnya Pembunuh 99 Nyawa

tobatnya pembunuh 99 nyawa

Kisah Tobatnya Pembunuh 99 Nyawa – Dalam sebuah riwayat yang panjang Imam Abu Zakariya An-Nawawi mengutip satu riwayat dari Shahih Bukhari dan Shahih Muslim tentang kisah seorang pembunuh yang ingin bertaubat.

Suatu ketika sebelum kedatangan Nabi Muhammad Saw, terdapat seorang laki-laki yang membunuh 99 orang. Ia bertanya kepada penduduk sekitar tentang seorang yang alim yang dapat membimbingnya untuk bertobat. Maka ditunjukkanlah dia kepada seorang rahib (sebutan untuk Pendeta Bani Israil).

Setelah mendatanginya, ia menceritakan maksud dan tujuannya, lalu ia bertanya, “Apakah saya masih bisa bertobat?” “Tidak!” Jawab rahib tersebut. Saking kesalnya, laki-laki teersebut membunuh sang rahib, jadi genaplah 100 orang yang telah ia bunuh.

Kemudian ia kembali lagi bertanya tentang keberadaan orang yang paling alim di muka bumi. Ia pun ditunjuki kepada seorang alim. Lantas ia bertanya pada alim tersebut, “Jika seseorang telah membunuh 100 jiwa, apakah tobatnya masih diterima?” Orang alim itu pun menjawab, “Ya masih diterima, tidak akan ada yang menghalangi antara dirinya dengan tobatnya.”

Lalu ia melanjutkan nasehatnya, “Beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah Ta’ala, maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan janganlah kamu kembali ke tempatmu(yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat jelek.”

Laki-laki ini pun pergi (menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut). Ketika sampai di tengah perjalanan, maut pun menjemputnya. Akhirnya, terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat adzab. Malaikat rahmat berkata, “Orang ini datang dalam keadaan bertobat dengan menghadapkan hatinya kepada Allah.”

Namun malaikat adzab berkata, “Orang ini belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun.” Lalu datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia, mereka pun sepakat untuk menjadikan malaikat ini sebagai pemutus perselisihan mereka.

Malaikat ini berkata, “Ukurlah jarak kedua tempat tersebut (jarak antara tempat jelek yang dia tinggalkan dengan tempat yang baik yang ia tuju -pen). Jika jaraknya dekat, maka ia yang berhak atas orang ini.” Lalu mereka pun mengukur jarak kedua tempat tersebut dan mereka dapatkan bahwa orang ini lebih dekat dengan tempat yang ia tuju. Akhirnya, ruhnya pun dicabut oleh malaikat rahmat.”

Dari kisah ini dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa siapapun yang melakukan perbuatan dosa masih berhak untuk diterima tobatnya asalkan dilakukan dengan sungguh-sungguh, dan dilakukan semasa ia hidupnya karena tobat orang yang telah tiba ajalnya tidak lagi diterima oleh Allah SWT.

Wallahu a’lam.

Sumber: Riyadh al-Shalihin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *