Tragedi Karbala
SEJARAH DAN TOKOH ISLAM

Tragedi Karbala, Kisah Pembantaian Terhadap Cucu Rasulullah

Alomuslim.com – Tragedi Karbala merupakan sebuah kisah pilu mengenai terbunuhnya cucu kesayangan Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, Al Husein bin Ali bin Abu Thalib radhiallahu anhu. Peristiwa ini terus diperingati hingga hari ini, orang-orang Syi’ah membuat sebuah peringatan khusus atas tragedi ini, yang dikenal dengan perayaan Asy-Syuro. Padahal kelompok Syi’ah-lah yang telah mengkhianati Al Husein dan menyebabkan terbunuh di Karbala.

Tragedi ini bermula ketika Al Husein dan beberapa penduduk Madinah keberatan untuk membaiat khalifah yang diwariskan oleh Mu’awiyah bin Abu Sufyan radhiallahu anhu kepada anaknya, Yazid bin Mu’awiyah. Mereka menginginkan agar pemilihan khalifah dilakukan oleh majelis syuro yang terdiri dari sahabat-sahabat yang mulia. Karena Mu’awiyah pernah berjanji akan menyerahkan kekhalifahan kepada kaum muslimin setelah ia meninggal, tetapi ia tidak melakukannya.

Orang-orang Kufah (Irak) mengirimi surat kepada Al Husein, yang menyatakan akan memberikan dukungan untuk merebut kekhalifahan dan mengundangnya untuk datang ke Kufah. Al Husein berangkat ke Kufah bersama beberapa keluarganya, baik yang laki-laki maupun perempuan dan juga anak-anaknya.

Yazid bin Mu’awiyah yang sudah mendengar tentang keberangkatan Al Husein menuju Kufah, segera mengirimkan surat kepada Ubaidullah bin Ziyad, yang pada waktu itu bertugas sebagai Gubernur di Kufah dan Basrah, untuk mencegah rombongan Al Husein mencapai Kufah. Ubaidullah bin Ziyad mengirim pasukan sebanyak empat ribu orang dibawah pimpinan Umar bin Sa’ad. Sementara masyarakat Kufah yang mengundang Al Husein, justru berbalik mengkhianati Al Husein dan malah tunduk kepada pasukan Ubaidullah bin Ziyad.

Akhirnya terjadilah peperangan di Padang Karbala pada tanggal 10 Muharram tahun 61 Hijriyah. Perang yang tidak seimbang, antara rombongan Al Husein yang hanya berjumlah 73 orang, harus menghadapi pasukan yang berjumlah ribuan. Maka yang terjadi adalah pembantaian yang memilukan. Al Husein harus tewas di tangan orang yang telah mengundangnya dan malah mengkhianatinya, yakni Amr bin Dzi Al Jausyan. Dia memenggal kepala Al Husein dan menyerahkannya kepada Ubaidullah bin Ziyad.

Kemudian kepala Al Husein dibawa kehadapan Ubaidullah bin Ziyad, maka sungguh sangat biadab apa yang dilakukan oleh Ubaidullah terhadap kepala Al Husein. Ia menusuk-nusukkan pedang ke mulut, mata dan hidung Al Husein. Sebagian sahabat yang menyaksikan hal tersebut meminta Ubaidullah untuk menghentikan perilakunya, dan alangkah sedihnya para sahabat ketika menyaksikan cucu kesayangan Rasulullah shallallahu alaihi was sallam harus diperlakukan dengan sangat buruk.

Tatkala Al Husein dibunuh, dunia seakan terhenti selama tujuh hari, terjadi gerhana matahari di hari itu. Ufuk langit memerah selama enam bulan, serta ufuk merah tersebut kelihatan terus menerus yang sebelumnya belum pernah terjadi. Dengan peristiwa terbunuhnya Al Husein, membuat kaum muslimin semakin membenci Yazid bin Mua’wiyah.

Dan yang perlu kaum muslimin ketahui, bahwa Ubaidullah bin Ziyad dan Amr bin Dzi Al Jausyan merupakan pembela (syi’ah) Ali pada peristiwa perang Shiffin. Maka apabila hari ini kita menyaksikan orang-orang Syi’ah memperingati terbunuhnya Al Husein dalam perayaan Asy Syura dengan meratapi kesedihan atas peristiwa itu, sungguh adalah sebuah kedustaan. Mereka layaknya para pendahulu mereka, masyarakat Kufah yang telah mengkhianati Ali bin Abu Thalib juga Al Husein, hingga menyebabkan keduanya terbunuh.

Referensi :

  • Tarikh Khulafa, Imam As-Suyuthi (Pustaka Al Kautsar : 2015)
  • dan berbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *