Wahai Muslimah, Murahkanlah Maharmu

Wahai Muslimah, Murahkanlah Maharmu

Wahai Muslimah, Murahkanlah Maharmu – Diantara salah satu faktor penyebab banyaknya wanita menjadi ‘perawan tua’ serta para pemuda takut untuk menikah adalah sikap menyulitkan dan berlebih-lebihan dari pihak keluarga wanita dalam menuntut mahar.

Setiap kali pemuda muslim mencoba melangkahkan kakinya menuju jenjang pernikahan, namun seringkali goyah bahkan memutuskan untuk mundur setelah mendengar pernyataan dari pihak keluarga wanita mengenai apa yang telah dipersiapkannya untuk biaya pernikahan serta mahar.

Pihak keluarga wanita telah sibuk dalam menyusun perencanaan mengenai pesta pernikahan, gedungnya, pakaiannya, makanannya, souvenirnya dan berbagai pernak-pernik lainnya, yang kesemuanya itu kemudian akan dipertanyakan kepada seorang pemuda muslim yang hendak mengajukan pinangan terhadap anak wanitanya.

Baca Juga : Urgensi Nikah Muda

Wahai para ayah dan ibu, belas kasihanlah kepada para pemuda muslim yang ingin membina rumah tangga dalam rangka ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Dimanakah posisi kalian bila dibandingkan dengan sunnah Nabi kalian, Muhammad ? Dimanakah posisi putri kalian bila dibandingkan dengan Ummul Mukminin Aisyah radhallahu anha? Apakah kalian merasa lebih baik dari para sahabiyah Nabi?

Mahar Adalah Hak Anak Wanita

Syariat islam telah mengatur, bahwa mahar adalah hak bagi seorang anak wanita, baik ia masih gadis atapun sudah janda, sebagaimana firman Allah ﷻ :

وَءَاتُواْ ٱلنِّسَآءَ صَدُقَٰتِهِنَّ نِحۡلَةٗۚ ٤

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang dengan penuh kerelaan.” (QS. An Nisa’ : 4)

Ibnu Hazm rahimahullah, dalam al Muhalla berkata :”Tidak halal bagi ayah gadis, baik masih kecil maupun sudah dewasa, atau janda dan tidak halal pula bagi selainnya, yaitu semua kerabat atau orang lain, memutuskan mengenai mahar anaknya atau kerabatnya.”

Wahai Muslimah, Murahkanlah Maharmu pemberian

Sehingga menurut dalil dan pendapat ulama tersebut, bahwa seorang ayah dan ibu dari pihak wanita tidak memiliki hak untuk mengatur serta menentukan apa dan berapa jumlah mahar yang harus diberikan oleh pihak laki-laki. Karena mahar sepenuhnya menjadi hak bagi anak wanita. Oleh karena itu, kepada para wanita muslimah, murahkanlah maharmu!! Karena Rasulullah ﷺ pernah bersabda :

“Sebaik-baik pernikahan ialah yang paling ringan maharnya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban)

Dalam kisah pernikahan Ummu Sulaim dengan Abu Talhah radhiallahu anhuma, terdapat sebuah pembelajaran berharga. Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu anhu, yang merupakan putra dari Ummu Sulaim, ia mengisahkan tentang pinangan Abu Thalhah terhadap ibunya.

Ummu Sulaim berkata kepada Abu Thalhah, “Demi Allah, wahai Abu Thalhah, orang sepertimu tidak pantas untuk ditolak (pinangannya). Tapi engkau adalah laki-laki kafir dan aku adalah wanita muslimah. Tidak halal bagiku menikah denganmu. Jika engkau masuk islam, maka itulah maharku dan aku tidak meminta selainnya,” Abu Thalhahpun masuk islam, dan itulah maharnya. Karena hal tersebut menjadi salah satu sebab, Ummu Sulaim dianggap sebagai wanita yang mulia.

Wahai wanita muslimah, muliakanlah diri kalian dengan ketundukkan terhadap syariat, berbelas kasihanlah kepada para pemuda muslim yang hendak meminangmu dalam rangka ketaatan mereka menuju ridha Allah dan Rasul-Nya.

Referensi : Mahkota Penganti, Majdi bi Mashur bin Sayyid asy-Syuri (Pustaka at Tazkia : 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *