Wajib Meletakkan Sutrah (Pembatas) Ketika Shalat
DASAR ISLAM, SHALAT

Wajib Meletakkan Sutrah (Pembatas) Ketika Shalat

Alomuslim.com – Banyak umat muslim yang belum mengetahui hukum meletakkan Sutrah (pembatas) dihadapan mereka ketika sedang shalat. Sesungguhnya, hukum meletakkan sutrah adalah wajib. Hal ini berdasarkan beberapa hadits shahih dalam penjelasan cara shalat Rasulullah shallallahu alaihi was sallam.

Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda :

‘Janganlah engkau shalat tanpa memasang sutrah (pembatas). Dan janganlah engkau membiarkan seseorang melintas di hadapanmu. Jika ia memaksa melintas, maka cegahlah, karena sesungguhnya bersamanya ada syaithan.” (jayyid. HR Ibnu Khuzaimah 1/93/1)

Jarak Sutrah Dengan Tempat Shalat

Abdullah bin Umar radhiallahu anhu  menceritakan :

“Rasulullah shallallahu alaihi was sallam shalat berdiri di dekat sutrah (pembatas). Jarak antara beliau dan dinding yang dijadikan sutrah sekitar tiga hasta.” (HR. An Nasa’i 1/122 dan Ahmad 2/138)

Terdapat tambahan dalam hadits yang diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d as-Sa’di radhiallahu anhu, ia berkata :

“Jarak antara tempat berdiri Rasulullah shallallahu alaihi was sallam dam dinding kira-kira cukup untuk dilewati seekor anak kambing.” (HR. Bukhari 2/455, Muslim 2/59 dan al-Baihaqi 2/272)

Berdasarkan hadits diatas, maka dari tempat berdirinya seseorang hendaknya memberi jarak tiga hasta (+ 140 cm) dengan sutrahnya, atau seukuran cukup untuk dilewati seekor anak kambing.

Bentuk dan Ukuran Sutrah

Wajib Meletakkan Sutrah (Pembatas) Ketika Shalat bentuk sutrah

Sutrah bisa menggunakan sebuah benda yang menjadi penanda batas jarak antara tempat berdiri dengan tempat sujud seseorang. Benda tersebut bisa menggunakan apapun, seperti misalnya dinding, tombak, tiang atau tas ransel, dan yang lainnya. Tingginya seukuran pelana tunggangan atau ada sebagian yang menyebutkan minimal setinggi 15-20 cm.

Sutrah tidak bisa menggunakan garis pada ujung sajadah, sebagaimana biasa digunakan oleh kaum muslimin dan juga terjadi pada para jamaah masjid-masjid di lingkungan kita. Oleh karenanya, sebaiknya seseorang ketika shalat, ia berdiri menghadap tembok atau tiang masjid, apabila memungkinkan pengurus masjid harus membuatkan kayu sutrah yang bisa digunakan oleh para jamaah.

Wallahu a’lam bishawab.

Referensi : Sifat Shalat Nabi Shallallahu Alaihi Was Sallam Jilid 1, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani (Griya Ilmu : 2016)

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *