Waktu Dan Tempat Dilaksanakannya Itikaf

waktu dan tempat dilaksanakannya itikaf

Waktu Dan Tempat Dilaksanakannya I’tikaf – Pernah ga kita bertanya-tanya kapan waktu yang pas untuk melaksanakan i’tikaf? Atau di mana sih seharusnya i’tikaf dilaksanakan? Berikut ini akan dijelaskan tentang waktu dan tempat i’tikaf itu dilaksanakan dalam sudut pandang fikih.

Perbincangan fikih terkait i’tikaf umumnya berkutat antara kapan i’tikaf dilaksanakan dan di mana seharunya dikerjakan. Terdapat beberapa perbedaan di kalangan ulama fikih. Pertama, i’tikaf dianjurkan dilaksanakan pada bulan Ramadhan dan selain bulan Ramadhan, batas minimalnya menurut ulama Hanafiyyah adalah sebentar saja tanpa ada batasan yang pasti, dengan syarat berdiam diri dan disertai dengan niat.

Baca Juga : I’tikaf Dan Hukum Melaksanakannya

Sedangkan menurut ulama Malikiyyah batas minimal dikatakan sebagai i’tikaf adalah sehari semalam. Adapun menurut ulama Syafi’iyyah, batas minimal i’tikaf adalah berdiam diri sampai ia dikatakan sebagai orang yang tinggal, ukurannya adalah melebihi ukuran orang dikatakan tuma’ninah (tenang) dalam ruku’ dalam salat dan selain ruku’. Tidak ada keharusan untuk tinggal di masjid, bolak-balik masuk saja dikatakan i’tikaf dengan syarat minimal tersebut.

Selanjutnya adalah tempat di mana i’tikaf itu dilaksanakan. Ulama Hanafiyyah membagi tempat untuk melaksanakan i’tikaf ke dalam dua kategori. Pertama adalah untuk laki-laki, diharuskan untuk melaksanakannya di Masjid Jami’ atau Jamaa’ah, yakni masjid yang di dalamnya dikumandangkan adzan dan memiliki imam meskipun di dalamnya tidak dipakai untuk menjalankan salat lima waktu berjamaah secara penuh.

Ini didasarkan pada riwayat Ibn Mas’ud, “Tidak dinamakan i’tikaf, kecuali dikerjakan di dalam Masjid Jama’ah”. Kedua adalah untuk perempuan, yakni dilaksanakan di Masjid rumahnya, yakni tempat ibadah yang dipersiapkan untuk melaksanakan salat lima waktu. Adapun ulama Syafi’iyyah memperbolehkan beri’tikaf di Masjid, baik yang masih dalam satu atap dengan masjid atau di luar masjid yang masih berhubungan dengan Masjid.

Namun, lebih diutamakan lagi adalah di dalam Masjid Jama’ah. Berbanding sangat terbalik dengan pendapat ulama Hanafiyyah, menurut ulama Syafi’iyyah, perempuan tidak diperbolehkan i’tikaf di Masjid rumahnya dengan alasan, masjid di dalam rumah bisa berubah-ubah (tidak tetap) dan orang yang tengah junub pun boleh mendiaminya. Ditambah lagi, dahulu istri-istri Nabi SAW, melaksanakan i’tikaf di dalam masjid bukan di rumah-rumah mereka.

Demikianlah sekelumit informasi terkait i’tikaf, semoga di momen Ramadhan ini kita dapat meningkatkan amal ibadah kita, dan amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Amin.

Wallahu a’lam.

Sumber: al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *