Yang Termasuk Syarat Sah Shalat

Yang Termasuk Syarat Sah Shalat

Alomuslim.com – Setiap shalat yang dikerjakan oleh kaum muslimin hendaknya memperhatikan syarat sah shalat sebagai berikut :

1. Mengetahui Masuknya Waktu

Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah membatasi waktu-waktu untuk shalat, sebab shalat adalah ibadah yang telah ditentukan waktunya, oleh karenana seseorang tidak boleh melakukan shalat sebelum masuk waktunya dan melaksanakan shalat setelah habis masanya, kecuali ada udzur yang dibenarkan oleh syariat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisaa : 103)

2. Suci Dari Dua Hadats

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Allah tidak menerima shalat salah seorang dari kalian ketika berhadats hingga ia berwudhu.” (HR. Bukhari 135, Muslim 225)

Shalat seseorang dianggap tidak sah kecuali benar-benar telah dipastikan suci dari hadats, baik hadats besar maupun hadats kecil kecuali mereka yang mempunyai udzur syar’i, seperti orang yang mempunyai penyakit selalu buang air kecil atau buang angin, maka mereka boleh melakukan shalat meskipun dibadannya ada hadats dan juga najisnya.

Adapun bagian-bagian yang disyariatkan untuk bebas dari hadats dan najis adalah badan, pakaian dan juga tempatnya shalat. Maka seorang muslim harus menjaga ketiga hal tersebut dan memastikannya untuk menjaga keabsahan shalatnya.

Apakah seseorang harus mengulang shalatnya jika ia mengetahui adanya najis pada dirinya setelah melaksanakan shalat?

Jika seseorang setelah shalat kemudian menyadari dirinya belum berwudhu, maka ia harus mengulang shalatnya. Karena itu merupakan sarat sahnya shalat. Sementara, setelah shalat orang tersebut menyadari adanya najis di badan atau pakaiannya, maka menurut Ibnu Umar dan para ulama dari generasi Tabi’in, menyatakan bahwa shalatnya sah dan tidak harus mengulanginya.

Dalil atas pendapat tersebut adalah tentang hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang melepas sandalnya ketika Jibril memberitahu bahwa pada keduanya ada najis. Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak mengetahui kalau disandalnya ada najis sampai Jibril memberitahukannya. Ketika itu beliau melepas sandalnya, kemudian melanjutkan shalatnya. Jika shalat tersebut tidak sah, niscaya Nabi shallallahu alaihi wa sallam akan mengulangi shalatnya.

Hal ini menjadi dalil disyaratkannya untuk menjauhi najis ketika akan melaksanakan shalat, dan menjadi penguat bahwa suci dari najis adalah wajib shalat dan bukan syarat sah shalat. Wallahu a’lam. 

Referensi : Shahih Fikih Sunnah Jilid 1, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)

2 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like