Beberapa Ketentuan Seputar Zakat Barang Dagangan
DASAR ISLAM, ZAKAT

Beberapa Ketentuan Seputar Zakat Barang Dagangan

Alomuslim.com – Setelah mengetahui hukum mengenai zakat barang dagangan, yang bisa anda baca pada artikel kami sebelumnya. Berikut akan kami sampaikan beberapa ketentuan yang harus diperhatikan oleh para pedagang dalam kewajiban membayar zakat atas barang dagangannya.

Syarat-Syarat Zakat Harta Barang Dagangan

Syarat harta yang dianggap sebagai barang dagangan adalah barang-barang yang dimiliki oleh pedagang dengan perbuatannya sendiri seperti dengan cara membelinya dan ia bermaksud memperdagangkannya. Bukan dari barang-barang yang ia masih berhutang dalam memilikinya tetapi tidak dapat melunasinya atau ia menjual barang dagangan orang lain sebagai agen.

[irp posts=”2609″ name=”Mengupas Masalah Zakat Penghasilan Dalam Hukum Islam”]

Harta barang dagangan akan dikenakan kewajiban zakat dengan ketentuan syarat-syarat sebagai berikut :

  1. Barang yang diperdagangkan bukan termasuk kategori yang diwajibkan zakat padanya secara asalnya, seperti ; hewan ternak, emas, perak dan sebagainya.

Hal tersebut sesuai dengan kesepakatan para ulama bahwa tidak boleh digabungkan antara dua zakat, melainkan yang lebih kuat adalah kewajiban zakat pada sesuatu tersebut (zakat ‘ain). Juga karena zakat pada sesuatu yang berkaitan lebih memiliki ketetapan dan lebih kuat menurut ijma’ ulama, berbeda dengan zakat barang dagangan.

Dengan demikian orang yang memperdagangkan sesuatu yang memang pada dasarnya diwajibkan zakat (seperti ; hewan ternak, emas, perak dan lainnya), jika ia tidak mencapai nisab, hendaknya mengeluarkan zakatnya dengan hitungan zakat perdagangan. (Al Majmu’ 6/50, Al Mughni 3/34)

  1. Hendaknya mencapai nisabnya (nisab barang dagangan), yaitu nisab dari asset yang ada senilai 85 gram emas.
  2. Mencapai batas haul (masa satu tahun dalam kalender hijriyah).

Kapankah Pencapaian Nisab Dianggap Sah Pada Barang Dagangan?

Para ulama berbeda pendapat mengenai waktu pencapaian nisab pada barang dagangan. Adapun beberapa pendapat yang masyhur terbagi menjadi tiga golongan, diantaranya :

  1. Menurut madzhab imam Malik dan imam Syafi’i, waktu pencapaian nisab atas barang dagangan adalah hanya pada akhir haul. Ketika barang dagangan pada akhir haul mencapai nisab, maka wajib dikeluarkan zakatnya.
  2. Sementara menurut pendapat mayoritas ulama, waktu pencapaian nisab atas barang dagangan dalam hitungan seluruh haul. Maka jika ia berkurang dari nisab, meskipun sesaat, maka hitungan haulnya dianggap terputus. Sehingga harus mulai menghitung batas waktu yang baru lagi.
  3. Ulama dari madzhab Hanafi memiliki pendapat terpisah dalam hal ini, menurut mereka perhitungan dilakukan pada permulaan dan akhir dari haul, tanpa memperhitungkan pada masa ditengahnya. Sehingga apabila terjadi pengurangan harta barang dagangan pada pertengahan masa haul, maka hal itu tidak diperhitungkan.
[irp posts=”1353″ name=”Dosa Besar Tidak Membayar Zakat”]

Bagaimana Seorang Pedagang Membayarkan Zakat Kekayaannya?

Apabila waktu pembayaran zakat telah tiba, maka bagi seorang pedagang hendaknya menggabungkan seluruh hartanya, termasuk ;

  1. Modal, keuntungan, harta simpanan, dan nilai barang-barang dagangannya
  2. Utang piutang yang diharapkan dapat dilunasi.

Hendaknya seorang pedagang menghitung nilai barang dagangannya dan menggabungkan pada harta lainnya yang dimiliki, juga termasuk piutang yang diharapkan dapat dilunasi, kemudian kurangilah denga jumlah hutang yang dia tanggung.

Setelah itu, dari jumlah semua itu hendaknya ia mengeluarkan zakat 2,5% sesuai harga waktu pembayaran zakat dan bukan sesuai harga beli. Perhitungan seperti ini ditujukkan kepada pedagang yang terus melakukan praktek jual beli. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh para ulama dan juga didukung oleh imam Malik.

[irp posts=”2221″ name=”Perbedaan Antara Zakat, Sedekah Dan Infaq”]

Akan tetapi mengenai pedagang yang melakukan monopoli (membeli barang dan menyimpannya, kemudian memantau pasar, dan manakala harga melambung tinggi, ia menjualnya). Imam Malik berkata, ‘Ia tidak harus mengeluarkan zakat, kecuali jika ia telah menjual barang-barangnya dan ia dikenakan zakat untuk satu tahun, meskipun ia menyimpannya selama bertahun-tahun.’

Wallahu a’lam. 

Referensi : Shahih Fikih Sunnah Jilid 2, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *