Mengupas Masalah Zakat Penghasilan Dalam Hukum Islam

zakat penghasilan

Mengupas Masalah Zakat Penghasilan Dalam Hukum Islam – Zakat merupakan kewajiban yang diperintahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada setiap muslim yang memiliki harta telah mencapai nishab (ukuran tertentu) dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan. Sehingga bagi orang yang menolak membayar zakat karena mengingkari kewajibannya maka dia di hukumi kafir.

Sedangkan orang yang menolak membayarnya karena kikir tetapi ia mengakui kewajibannya, sesungguhnya ia telah berdosa, dan zakat harus diambil darinya secara paksa dengan memberikan teguran kepadanya.

Untuk menghindari kelalaian dalam menunaikan kewajiban zakat, saat ini berkembang di Indonesia istilah zakat penghasilan, yang diambil setiap bulan dari seorang pegawai ketika mereka menerima gaji bulanan. Biasanya gaji bulanan sang pegawai akan langsung dipotong oleh pihak perusahaan tempat orang tersebut bekerja.

Baca Juga : Keutamaan Dan Manfaat Menunaikan Zakat

Atau terkadang sang pegawai menunaikannya sendiri dengan menyalurkan langsung pada lembaga zakat, tanpa harus dipotong dari perusahaan tempat ia bekerja. Apakah cara menunaikan zakat seperti ini dibenarkan syariat Islam?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada dua kondisi berbeda yang dapat dijadikan sebagai contoh untuk mejelaskan :

1. Apabila orang tersebut memiliki harta yang telah mencapai nishab, kemudian dia menggunakan gaji bulanan sebagai tambahan

Untuk kondisi seperti ini, sebaiknya orang tersebut membuat jadwal perhitungan dari sisipan pendapatan yang diterimanya setiap bulan. Kemudian digabungkan dengan harta yang dia miliki yang telah mencapai nishab dan dikeluarkan zakatnya setelah mencapai batas haul (masa satu tahun) dari waktu pertama memiliki harta dari gaji bulanan tersebut.

Atau bisa juga dia mendahulukan menzakati sebagian atau seluruh hartanya, yang diambil dari penghasilan bulanannya setelah digabungkan dengan harta yang telah mencapai nishab, meskipun belum jatuh tempo batas haulnya. Hal ini diperbolehkan, terlebih jika terdapat faktor yang mendukungnya atau juga karena terdapat maslahat yang harus diprioritaskan

2. Apabila harta yang dimiliki tidak mencapai nishab dan dia menghabiskan pendapatannya untuk kebutuhan sehari-hari

Syarat untuk dapat menunaikan zakat harta adalah telah mencapai nishab dan haul. Syarat haul menjadi hal penting yang harus diperhatikan dalam masalah ini. Rasulullah  telah menetapkan melalui sabda beliau :

“Dan tidak ada zakat pada harta hingga mencapai haul.” (HR. Abu Dawud no. 1573, Tirmidzi no. 631 dan Ibnu Majah no. 1792)

Berarti, jika belum memenuhi haul, maka tidak ada kewajiban zakat. Kenapa harus sampai menunggu haul? Karena harta tersebut masih mengalami pertumbuhan atau perubahan, dan berkembangnya harta disini diambil standar satu tahun. Sehingga mengeluarkan zakat harta penghasilan lebih selamat jika ditunaikan setelah masa satu tahun dari pertama kali dia menerima harta penghasilan tersebut.

Baca Juga : Harta Yang Wajib Dibayarkan Zakatnya

Walaupun harta telah mencapai nishab, namun dalam waktu satu tahun masih bisa mengalami perubahan, naik atau turun. Sehingga yang perlu diperhatikan adalah bahwa harta yang wajib dizakati merupakan harta lain yang tidak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok. Jadi apabila harta seseorang telah habis untuk kebutuhan sehari-harinya, maka orang tersebut terbebas dari kewajiban membayar zakat. Karena syariat Islam tidak diturunkan untuk memberatkan umatnya.

Wallahu Ta’ala ‘Alam Bishawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *